
Banjarnegara — Kelas Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara turut ambil bagian dalam Karnaval Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia tingkat Kabupaten Banjarnegara yang digelar pada Sabtu (22/8). Keikutsertaan tersebut menjadi momentum bagi para siswa untuk memperkenalkan karya literasi sekaligus menunjukkan bahwa sastra dapat hadir secara kreatif dalam perayaan kemerdekaan.
Dalam karnaval tersebut, Kelas Unggulan Sastra tampil dengan membawa 19 cover buku yang dicetak dalam ukuran besar. Ke-19 cover tersebut merepresentasikan karya-karya yang telah dihasilkan para siswa Kelas Unggulan Sastra, terdiri atas 18 judul buku antologi bersama dan satu judul buku solo.
Selain membawa cover buku berukuran besar, rombongan Kelas Unggulan Sastra juga menampilkan boneka berbentuk buku dengan ukuran menyerupai manusia. Kehadiran boneka buku tersebut semakin menarik perhatian masyarakat yang menyaksikan jalannya karnaval. Seluruh properti sastra itu dibawakan oleh sejumlah siswa kelas 8 dan 9 Kelas Unggulan Sastra dengan penuh semangat.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan apresiasinya atas keikutsertaan Kelas Unggulan Sastra dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, karnaval tidak hanya menjadi ajang untuk memperingati kemerdekaan, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi madrasah untuk menunjukkan berbagai potensi dan karya siswa.
“Keikutsertaan Kelas Unggulan Sastra dalam Karnaval Kemerdekaan ini merupakan bentuk kreativitas siswa sekaligus upaya memperkenalkan karya-karya mereka kepada masyarakat. Kami bangga karena karya literasi yang selama ini dihasilkan di madrasah dapat ditampilkan dalam sebuah kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas,” ujar H. Yatiman.
Koordinator Kelas Unggulan Sastra, H. Surya Widhi Prakosa, mengatakan bahwa konsep penampilan sengaja diarahkan untuk membawa karya sastra keluar dari lingkungan madrasah. Menurutnya, 19 cover buku yang ditampilkan merupakan bukti nyata proses dan produktivitas siswa dalam berkarya.
“Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga menghasilkan karya yang kemudian dibukukan. Ada 18 buku antologi bersama dan satu buku solo yang sudah dicetak. Melalui karnaval ini, kami ingin menunjukkan bahwa karya sastra siswa juga layak diperkenalkan kepada masyarakat dalam bentuk yang kreatif dan menarik,” jelas H. Surya Widhi Prakosa.
Salah seorang siswa Kelas Unggulan Sastra, Agan Fadhila, siswa kelas 9, mengaku senang dapat terlibat langsung dalam Karnaval Kemerdekaan dengan membawa salah satu cover buku berukuran besar. Baginya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda karena karya yang selama ini dikenal dalam bentuk buku dapat ditampilkan secara langsung di tengah masyarakat.
“Rasanya senang dan bangga bisa membawa cover buku karya Kelas Unggulan Sastra dalam karnaval. Biasanya kami melihat buku dalam ukuran biasa, tetapi kali ini cover buku dibuat besar dan dibawa berkeliling. Kami juga merasa bangga karena karya kami bisa dikenal oleh lebih banyak orang,” ungkap Agan.
Sementara itu, Kaila, siswa Kelas Unggulan Sastra yang berperan sebagai boneka buku sastra, mengatakan bahwa penampilan tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus berkesan. Dengan mengenakan kostum berbentuk buku berukuran manusia, ia bersama teman-temannya berusaha membuat penampilan Kelas Unggulan Sastra semakin menarik.
“Saya merasa senang bisa menjadi boneka buku. Awalnya terasa sedikit berbeda karena harus memakai kostum yang besar, tetapi saat melihat antusiasme masyarakat, rasanya menjadi sangat menyenangkan. Kami ingin menunjukkan bahwa sastra bisa dibuat menarik dan dekat dengan anak-anak,” kata Kaila.
Keikutsertaan Kelas Unggulan Sastra dalam Karnaval Kemerdekaan ke-81 RI Kabupaten Banjarnegara menjadi bagian dari upaya MTs Negeri 1 Banjarnegara untuk terus mengembangkan budaya literasi dan kreativitas siswa. Melalui kegiatan tersebut, karya sastra tidak hanya menjadi hasil pembelajaran di kelas, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ruang publik dan perayaan kebangsaan.
Penampilan 19 cover buku serta boneka buku berukuran manusia sekaligus menjadi simbol bahwa tradisi membaca dan menulis dapat dikemas secara kreatif, komunikatif, dan menyenangkan. Semangat berkarya yang ditunjukkan para siswa diharapkan semakin memperkuat budaya literasi di lingkungan madrasah sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus menghasilkan karya. (Fy)
