
Banjarnegara — Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam Karnaval Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia tingkat Kabupaten Banjarnegara, Sabtu (22/8). Mengusung konsep Trashion atau trash fashion, pengurus OSIM menyulap limbah plastik menjadi busana unik bernuansa merah putih yang dikenakan langsung oleh Ketua OSIM Madtsansa, Tessa, dan salah satu pengurus OSIM, Alif.
Penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk kreativitas siswa dalam memaknai peringatan kemerdekaan melalui karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Limbah plastik yang selama ini identik dengan sampah dan sulit terurai diolah menjadi sebuah karya busana yang memiliki nilai estetika.
Gaun yang dikenakan Tessa dibuat menggunakan limbah plastik berwarna merah dan putih. Bahan-bahan tersebut disusun dan dibentuk sedemikian rupa menyerupai bunga Rafflesia sehingga menghasilkan tampilan yang unik dan mencolok. Perpaduan warna merah dan putih semakin memperkuat nuansa nasionalisme sekaligus menjadi simbol semangat kemerdekaan.
Sementara itu, Alif tampil mengenakan jas yang juga dibuat dari bahan limbah plastik dengan warna senada. Keserasian kedua busana tersebut membuat penampilan Trashion OSIM Madtsansa tampak semakin menarik ketika melintas dalam barisan karnaval.
Karya tersebut tidak lahir secara instan. Proses pembuatan busana dilakukan secara bersama-sama oleh pengurus OSIM. Para siswa terlibat mulai dari menggagas konsep, memilih bahan, merancang desain, hingga menyusun limbah plastik menjadi busana yang siap dikenakan. Keterlibatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, kerja sama, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, mengapresiasi kreativitas yang ditunjukkan pengurus OSIM. Menurutnya, keterlibatan siswa dalam karnaval tidak semata-mata bertujuan memeriahkan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan potensi dan karakter positif siswa.
“Ini merupakan kreativitas yang sangat baik. Anak-anak mampu melihat sesuatu yang dianggap sebagai limbah menjadi sebuah karya yang memiliki nilai seni. Selain kreatif, kegiatan seperti ini juga mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, kerja sama, dan keberanian untuk tampil di ruang publik,” ungkap H. Yatiman.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Ikhsanudin, menyampaikan bahwa konsep Trashion menjadi bukti bahwa siswa Madtsansa mampu menghadirkan gagasan kreatif dari bahan-bahan sederhana yang ada di sekitar.
“Pengurus OSIM menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal. Dengan limbah plastik, mereka bisa menghasilkan busana yang menarik dan memiliki pesan edukatif. Proses pembuatannya juga melatih kekompakan dan tanggung jawab mereka sebagai pengurus organisasi,” jelas Ikhsanudin.
Tessa mengaku bangga dapat menjadi bagian dari penampilan tersebut sekaligus mengenakan karya yang dibuat bersama teman-temannya. “Awalnya kami ingin membuat sesuatu yang berbeda untuk karnaval. Kemudian muncul ide membuat Trashion dari limbah plastik. Gaun ini kami buat bersama-sama dan kami memilih bentuk bunga Rafflesia agar terlihat unik sekaligus tetap memiliki makna,” tutur Tessa.
Sementara itu, Alif mengungkapkan bahwa mengenakan jas berbahan limbah plastik menjadi pengalaman yang berbeda baginya. “Kami senang bisa menunjukkan bahwa sampah plastik juga bisa diolah menjadi sesuatu yang menarik. Proses pembuatannya membutuhkan kerja sama dan ketelitian, tetapi hasilnya membuat kami bangga ketika bisa ditampilkan dalam karnaval,” ujarnya.
Melalui penampilan Trashion, OSIM MTs Negeri 1 Banjarnegara tidak hanya turut menyemarakkan Karnaval Kemerdekaan ke-81 RI Kabupaten Banjarnegara, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kreativitas, kepedulian lingkungan, dan keberanian generasi muda untuk menghasilkan karya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa siswa Madtsansa mampu mengubah sesuatu yang sederhana dan tidak terpakai menjadi karya yang bernilai serta inspiratif. (Fy)
