Kelas Unggulan Riset Madtsansa Mantapkan Laporan OPSI dan Proposal OMI Riset 2026

Banjarnegara — Kelas Unggulan Riset MTs Negeri 1 Banjarnegara terus mematangkan persiapan menghadapi berbagai ajang kompetisi penelitian tingkat nasional. Pada Rabu (26/8), para siswa kelas unggulan riset melaksanakan kegiatan penyusunan laporan hasil penelitian untuk ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tahun 2026 sekaligus menyiapkan proposal penelitian untuk ajang OMI Riset Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Laboratorium Komputer Madtsansa dengan pendampingan tim pembina riset.

Suasana laboratorium komputer tampak dipenuhi aktivitas para siswa yang serius menyelesaikan tahapan penelitian masing-masing. Sebagian siswa melakukan penyempurnaan laporan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, sementara siswa lainnya mulai menyusun proposal dengan merancang latar belakang, rumusan masalah, metodologi, hingga rencana pengembangan penelitian.

Wakil Kepala Madrasah Urusan Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari pembinaan kelas unggulan riset. Menurutnya, proses penelitian tidak berhenti ketika data penelitian berhasil diperoleh, tetapi harus dilanjutkan dengan kemampuan mengolah data dan menuangkannya dalam laporan yang sistematis.

“Anak-anak tidak hanya kami dorong untuk menghasilkan penelitian yang baik, tetapi juga belajar bagaimana menyusun laporan secara ilmiah, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula untuk yang mempersiapkan proposal, mereka belajar merancang penelitian sejak awal dengan memperhatikan permasalahan, metode, dan tujuan yang jelas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengalaman mengikuti kompetisi penelitian diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang kritis, teliti, kreatif, serta memiliki kemampuan memecahkan masalah. Keterampilan tersebut, lanjutnya, menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan pada jenjang berikutnya.

Koordinator Kelas Unggulan Riset, Hj. Tri Widayati, mengatakan bahwa kegiatan di laboratorium komputer difokuskan pada dua agenda utama. Siswa yang sebelumnya telah melakukan penelitian diarahkan untuk menyelesaikan laporan penelitian sebagai persiapan OPSI 2026, sedangkan siswa yang sedang merancang penelitian baru diarahkan untuk menyusun proposal dalam rangka mengikuti OMI Riset 2026.

“Kami mendampingi anak-anak sesuai dengan tahapan penelitian yang sedang mereka jalani. Untuk OPSI, fokusnya adalah bagaimana laporan hasil penelitian benar-benar menggambarkan proses dan hasil penelitian secara lengkap. Sementara untuk OMI, anak-anak mulai mengembangkan ide agar menjadi proposal penelitian yang kuat dan memiliki kebaruan,” jelas Hj. Tri Widayati.

Menurutnya, pendampingan dilakukan secara bertahap karena setiap penelitian memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Para siswa juga diarahkan untuk tidak sekadar mengejar prestasi, tetapi memahami setiap proses penelitian yang mereka kerjakan.

Salah satu anggota tim riset, Zaskia dari kelas 9A, saat ini tengah berkonsentrasi menyusun laporan penelitian untuk ajang OPSI 2026. Ia mengaku kegiatan penyusunan laporan membuat dirinya lebih memahami pentingnya ketelitian dalam menyajikan hasil penelitian.

“Sekarang saya sedang fokus menyusun laporan penelitian, terutama memastikan data dan pembahasan yang ditulis sesuai dengan hasil penelitian. Memang membutuhkan ketelitian, tetapi dari proses ini saya menjadi lebih memahami penelitian yang sudah kami lakukan,” ujar Zaskia.

Sementara itu, My Farrand menjadi salah satu siswa yang tengah mempersiapkan proposal penelitian untuk ajang OMI Riset 2026. Ia mengatakan proses penyusunan proposal membuat dirinya harus lebih banyak berpikir mengenai permasalahan yang akan diteliti dan bagaimana penelitian tersebut dapat memberikan manfaat.

“Dalam menyusun proposal, kami harus benar-benar memikirkan masalah yang ingin diteliti, tujuan penelitian, serta metode yang akan digunakan. Saya berharap proposal yang sedang disiapkan dapat terus dikembangkan hingga menjadi penelitian yang baik,” tutur My Farrand.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Madtsansa dalam mengembangkan budaya riset di lingkungan madrasah. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, siswa tidak hanya dipersiapkan untuk berkompetisi, tetapi juga dibiasakan berpikir ilmiah, berani menyampaikan gagasan, serta mampu menghasilkan karya yang memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Dengan persiapan yang dilakukan sejak dini dan pendampingan secara intensif, Kelas Unggulan Riset Madtsansa optimistis dapat memberikan hasil terbaik dalam OPSI 2026 maupun OMI Riset 2026. Lebih dari sekadar mengejar medali, proses tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi peneliti muda yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, berpikir kritis, dan mampu berkontribusi melalui inovasi berbasis penelitian. (Lin)