
Banjarnegara — Podcast Madtsansa Ada Apa episode ke-31 resmi dipublikasikan melalui akun YouTube MTs Negeri 1 Banjarnegara pada Sabtu (10/10). Mengangkat tema perjuangan Palang Merah Remaja (PMR) Madtsansa meraih predikat Juara Umum Jumbara PMR Madya Tahun 2026 Kabupaten Banjarnegara, episode kali ini menghadirkan cerita inspiratif tentang proses panjang, kedisiplinan, kerja sama, dan kepedulian di balik sebuah prestasi.
Peluncuran episode terbaru podcast tersebut turut disemarakkan dengan publikasi video thriller melalui seluruh media sosial Madtsansa. Video pengantar itu menjadi bagian dari upaya tim publikasi untuk menarik perhatian warga madrasah dan masyarakat agar menyaksikan kisah perjuangan para anggota PMR yang telah mengharumkan nama MTs Negeri 1 Banjarnegara.
Dipandu oleh Linara sebagai host, podcast menghadirkan Erma Ratnaningsrum selaku pembina PMR Madtsansa, dan Raisa Alin Setiawan sebagai ketua PMR Madtsansa. Perbincangan dikemas dalam format talkshow yang mengajak penonton menyelami pengalaman para anggota PMR sejak persiapan, latihan, pelaksanaan kompetisi, hingga keberhasilan meraih gelar juara umum.
Linara menyampaikan bahwa episode ke-31 tidak sekadar membahas keberhasilan membawa pulang penghargaan, tetapi juga mengungkap nilai-nilai yang terbentuk selama perjalanan tersebut.
“Melalui podcast ini, kami ingin mengajak penonton melihat bahwa prestasi bukan hanya tentang piala dan gelar juara. Ada proses panjang, latihan yang konsisten, rasa lelah, keberanian untuk memperbaiki kesalahan, serta dukungan banyak pihak yang menjadi bagian penting dari keberhasilan PMR Madtsansa,” ungkap Linara.
Menurutnya, podcast menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus sarana publikasi yang dapat memberikan inspirasi bagi peserta didik lainnya. Kisah PMR Madtsansa diharapkan mampu menumbuhkan semangat untuk berprestasi tanpa melupakan karakter, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.
Erma Ratnaningsrum menjelaskan bahwa pembinaan PMR bukan semata-mata bertujuan menghasilkan peserta yang unggul dalam kompetisi. Lebih dari itu, kegiatan PMR merupakan wadah untuk membentuk karakter peserta didik agar memiliki sikap peduli, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan tidak mudah menyerah.
“Bagi seorang pembina, kebanggaan terbesar bukan hanya ketika anak-anak berhasil menjadi juara umum, melainkan ketika mereka menunjukkan perubahan sikap. Mereka mulai lebih bertanggung jawab, saling mengingatkan, berani mengevaluasi kesalahan, dan memiliki kesadaran untuk membantu tim,” tutur Erma.
Ia berharap pengalaman Jumbara menjadi bekal berharga bagi anggota PMR dalam kehidupan sehari-hari. Prestasi yang telah diraih hendaknya menjadi motivasi untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri, bukan alasan untuk cepat berpuas diri.
Sementara itu, Raisa Alin Setiawan mengungkapkan bahwa perjalanan menuju Jumbara memberikan pengalaman berharga dalam kepemimpinan dan kekompakan tim. Menurutnya, tantangan selama latihan tidak selalu berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana menyatukan perbedaan karakter, menjaga komunikasi, dan saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan.
“Sebagai ketua, saya belajar bahwa memimpin bukan berarti harus selalu berada paling depan atau memiliki semua jawaban. Pemimpin juga harus mau mendengarkan, menerima kritik, mengakui kesalahan, dan memastikan anggota tetap bersemangat. Kami belajar bahwa tim yang kuat adalah tim yang saling membantu,” jelas Raisa.
Dukungan dari lingkungan madrasah turut menjadi bagian penting dalam perjalanan PMR Madtsansa. Hani Farkhatun selaku pembina PMR lainnya menilai bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan, komitmen, dan kerja sama yang perlu terus dijaga. Ia berharap prestasi Jumbara dapat menjadi energi positif bagi pengembangan kegiatan PMR di MTs Negeri 1 Banjarnegara.
Senada dengan hal tersebut, Noviana sebagai salah satu anggota PMR Madtsansa memandang kebersamaan selama latihan dan kompetisi sebagai pengalaman yang tidak ternilai. Baginya, kegiatan PMR mengajarkan arti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian yang tidak berhenti ketika perlombaan berakhir.
Melalui penayangan episode ke-31 ini, Madtsansa Ada Apa kembali menegaskan perannya sebagai media informasi dan inspirasi madrasah. Kehadiran video thriller di berbagai kanal media sosial juga diharapkan memperluas jangkauan publikasi sehingga semakin banyak masyarakat mengenal kiprah peserta didik Madtsansa.
Podcast ini menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati tidak hanya diukur dari penghargaan yang dibawa pulang, tetapi juga dari karakter dan nilai kemanusiaan yang tumbuh selama proses perjuangan. Semangat peduli, disiplin, dan kerja sama diharapkan terus menjadi identitas PMR Madtsansa dalam melanjutkan pengabdian dan mengukir prestasi berikutnya. (Fy)
