
Banjarnegara — Kemampuan berpikir cepat, ketelitian, dan kelincahan jari menjadi daya tarik tersendiri dalam kompetisi rubik yang dihadirkan di stand Bazar Literasi MTs Negeri 1 Banjarnegara selama Festival Literasi Tahun 2026, Selasa hingga Kamis (13–15/10). Games edukatif ini sukses menghadirkan kemeriahan sekaligus memancing rasa penasaran pengunjung dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA.
Kompetisi rubik menjadi salah satu konten interaktif yang disiapkan tim Bazar Literasi Madtsansa untuk memberikan pengalaman berbeda kepada pengunjung. Tidak sekadar memamerkan karya dan program unggulan madrasah, stand Madtsansa juga mengajak pengunjung berpartisipasi langsung dalam permainan yang mengasah logika, konsentrasi, kesabaran, dan kemampuan memecahkan masalah.
Koordinator konten bazar, Linara, menjelaskan bahwa kompetisi rubik sengaja dihadirkan sebagai bentuk inovasi dalam mengemas literasi agar lebih dekat dengan dunia pengunjung, khususnya pelajar. Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir logis, menganalisis pola, serta menemukan solusi.
“Melalui kompetisi rubik, kami ingin menghadirkan suasana bazar yang menyenangkan sekaligus edukatif. Pengunjung tidak hanya melihat-lihat stand, tetapi juga bisa mencoba tantangan yang membutuhkan konsentrasi, strategi, dan kecepatan berpikir. Ternyata, antusiasmenya sangat tinggi dan setiap hari selalu ada kejutan dari para peserta,” ungkap Linara.
Pada hari pertama, Selasa (13/10), kompetisi berlangsung dengan penuh semangat. Sejumlah pengunjung mencoba menyelesaikan rubik berukuran 3×3 yang disediakan panitia. Namun, hingga kegiatan hari pertama berakhir, belum ada peserta yang berhasil menuntaskan seluruh susunan warna rubik tersebut. Tantangan itu justru semakin memancing rasa penasaran pengunjung untuk mencoba kembali pada hari berikutnya.
Memasuki hari kedua, Rabu (14/10), kebuntuan akhirnya terpecahkan. Rayhan, seorang murid SMP Negeri 1 Banjarnegara, berhasil menyelesaikan rubik 3×3 dalam waktu 01 menit 01 detik. Keberhasilannya menjadi catatan waktu pertama yang berhasil ditorehkan dalam kompetisi tersebut sekaligus memancing perhatian pengunjung stand.
Rayhan mengungkapkan kegembiraannya setelah berhasil menuntaskan tantangan. “Awalnya saya mencoba karena tertarik melihat kompetisi rubik di stand Madtsansa. Ternyata bisa selesai juga. Saya senang karena berhasil memecahkan rubik 3×3 dan mencatatkan waktu pertama. Tantangannya cukup seru karena harus tetap fokus supaya tidak salah menyusun warna,” tutur Rayhan.
Persaingan semakin menarik pada hari ketiga, Kamis (15/10). Zakka, murid MTs Negeri 1 Banjarnegara, berhasil mempertajam rekor Rayhan dengan catatan waktu 00 menit 47 detik. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa rekor dalam kompetisi ini masih terbuka untuk dipecahkan dan membuat pengunjung semakin penasaran menantikan peserta berikutnya.
Zakka mengaku tertantang untuk menunjukkan kemampuannya saat melihat kompetisi berlangsung. “Saya senang bisa ikut mencoba dan berhasil menyelesaikan rubik dengan waktu 47 detik. Rasanya puas karena bisa mempercepat rekor sebelumnya. Kompetisi ini menyenangkan karena kami bisa menguji kemampuan sekaligus berani mencoba tantangan di depan pengunjung lainnya,” ujar Zakka.
Kejutan belum berhenti sampai di situ. Rekor Zakka kembali dikalahkan oleh Syauqi, alumni MTs Negeri 1 Banjarnegara yang kini melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Banjarnegara. Dengan ketenangan dan kelincahan jari, Syauqi berhasil merampungkan rubik 3×3 hanya dalam waktu 00 menit 30 detik. Catatan tersebut menjadi waktu tercepat selama kompetisi berlangsung.
Syauqi mengungkapkan bahwa kesempatan mengikuti kompetisi rubik di stand almamaternya menjadi pengalaman yang menyenangkan. “Saya senang bisa ikut berpartisipasi di stand Madtsansa. Bisa menyelesaikan rubik dalam 30 detik tentu menjadi pengalaman tersendiri. Menurut saya, kuncinya adalah memahami pola, menjaga fokus, dan terus berlatih agar gerakan semakin lancar,” ungkap Syauqi.
Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta yang berhasil menyelesaikan rubik mendapatkan door prize menarik dari panitia. Pemberian hadiah ini menjadi penyemangat sekaligus penghargaan atas keberanian peserta dalam mencoba dan menuntaskan tantangan.
Linara berharap kompetisi rubik dapat memberikan pengalaman positif bagi pengunjung sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan literasi bisa dikemas secara kreatif, menyenangkan, dan partisipatif. Kehadiran kompetisi ini juga mempertemukan pelajar dari berbagai jenjang dalam suasana akrab dan penuh semangat.
Melalui konten interaktif tersebut, stand Bazar Literasi MTs Negeri 1 Banjarnegara tidak hanya menjadi ruang untuk mengenalkan program dan prestasi madrasah, tetapi juga wadah untuk mengembangkan kreativitas, mengasah kemampuan berpikir, dan membangun keberanian mencoba hal baru. Rekor demi rekor yang tercipta selama tiga hari menjadi bukti bahwa tantangan sederhana dapat menghadirkan keseruan, persaingan sehat, dan pengalaman literasi yang berkesan. (Fy)
