
Banjarnegara — Semangat belajar dan mengenal budaya madrasah terus menyala dalam rangkaian Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) MTs Negeri 1 Banjarnegara. Memasuki hari kedua pelaksanaan, Selasa (14/7), seluruh peserta MATAMUDA mengikuti sesi materi kemadrasahan yang disampaikan oleh Wakil Kepala Urusan Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati. Kegiatan berlangsung di Masjid Darul Ulum Madtsansa dengan suasana yang interaktif, hangat, dan penuh antusiasme.
Sejak sesi dimulai, para peserta tampak aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Materi tidak hanya disampaikan melalui pemaparan, tetapi juga dikemas dengan permainan edukatif, diskusi kelompok, simulasi studi kasus, kuis interaktif, hingga tepuk semangat yang membuat peserta terlibat secara langsung.
Dalam pemaparannya, Hj. Yuniyati mengenalkan visi utama MTs Negeri 1 Banjarnegara, yakni “Terwujudnya Generasi Islami, Cerdas, Peduli, dan Berbudaya Lingkungan.” Menurutnya, visi tersebut menjadi arah seluruh proses pendidikan di madrasah, sehingga setiap peserta didik tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak mulia.
Selain memperkenalkan visi madrasah, Hj. Yuniyati juga menjelaskan nilai-nilai kemadrasahan yang menjadi pedoman seluruh warga Madtsansa. Nilai tersebut diwujudkan melalui pembiasaan ibadah, kedisiplinan, adab kepada guru dan orang tua, serta etika dalam menggunakan media sosial.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menjadi salah satu ciri khas pembelajaran di MTs Negeri 1 Banjarnegara. Kurikulum tersebut menekankan pembentukan karakter melalui pengalaman belajar yang bermakna dengan mengedepankan kasih sayang, lingkungan belajar yang aman, serta bebas dari perundungan maupun kekerasan.
Dalam penjelasannya, Hj. Yuniyati memperkenalkan konsep Panca Cinta sebagai landasan utama pembelajaran, yaitu Cinta Allah dan Rasul, Cinta Ilmu, Cinta Diri dan Sesama, Cinta Alam dan Lingkungan, serta Cinta Tanah Air. Nilai-nilai tersebut diperkuat melalui berbagai pembiasaan di madrasah, seperti salat berjamaah, budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH), hingga pembelajaran berbasis proyek.
Agar materi lebih mudah dipahami, peserta diajak memecahkan berbagai studi kasus, seperti cara membantu teman yang kesulitan beradaptasi, menyikapi sampah yang dibuang sembarangan, menggunakan media sosial secara bijak, menyambut azan, hingga menunjukkan adab kepada guru. Melalui simulasi tersebut, peserta belajar mengambil keputusan yang mencerminkan nilai-nilai kemadrasahan dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Kepala Urusan Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati, mengatakan bahwa materi kemadrasahan bukan sekadar pengenalan aturan, melainkan proses membangun karakter sejak awal peserta didik bergabung di Madtsansa.
“Kami ingin peserta MATAMUDA memahami bahwa menjadi bagian dari Madtsansa berarti siap tumbuh sebagai generasi yang berakhlak, mencintai ilmu, peduli terhadap sesama dan lingkungan, serta mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum Berbasis Cinta menjadi fondasi agar seluruh proses belajar berlangsung dengan penuh kasih sayang, saling menghargai, dan menciptakan lingkungan madrasah yang nyaman,” ujar Hj. Yuniyati.
Antusiasme peserta terlihat hingga akhir kegiatan. Salah seorang peserta MATAMUDA, Ayunda, mengaku materi yang disampaikan sangat menarik karena tidak hanya berisi penjelasan, tetapi juga melibatkan peserta dalam berbagai aktivitas.
“Saya jadi lebih memahami budaya yang ada di Madtsansa. Simulasi dan diskusinya membuat kami lebih mudah mengerti bagaimana bersikap kepada teman, guru, maupun lingkungan sekitar,” ungkap Ayunda.
Hal senada disampaikan peserta lainnya, Bondan, yang merasa kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru selama mengikuti MATAMUDA.
“Materinya seru karena ada permainan, kuis, dan studi kasus. Saya jadi tahu bahwa belajar di madrasah bukan hanya mengejar nilai, tetapi juga membentuk karakter yang baik,” katanya.
Sementara itu, peserta bernama Ebas menilai konsep Panca Cinta menjadi pelajaran yang paling berkesan baginya.
“Saya paling ingat tentang Panca Cinta karena mengajarkan kami untuk mencintai Allah, ilmu, sesama, lingkungan, dan tanah air. Semoga saya bisa menerapkannya setiap hari selama belajar di Madtsansa,” tutur Ebas.
Melalui sesi kemadrasahan tersebut, peserta MATAMUDA diharapkan semakin mengenal jati diri MTs Negeri 1 Banjarnegara sekaligus siap menjalani proses pembelajaran dengan semangat, karakter yang kuat, dan komitmen untuk menjadi generasi Islami, cerdas, peduli, serta berbudaya lingkungan sesuai nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta. (Lin)
