
Banjarnegara — Bimbingan mingguan Kelas 8 Unggulan Sastra kembali dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan literasi sekaligus membentuk karakter peserta didik melalui pembelajaran sastra. Kegiatan yang mengangkat tema “Menyemai Karakter Melalui Sastra Fabel” tersebut berlangsung pada Kamis (10/9) di ruang kelas 8B dengan suasana pembelajaran yang interaktif dan penuh antusiasme.
Kegiatan bimbingan dipandu oleh Linara yang menyampaikan materi menggunakan paparan PowerPoint (PPT). Penyampaian materi tidak hanya berfokus pada pemahaman fabel sebagai karya sastra, tetapi juga mengajak peserta didik menggali nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Dalam materi dijelaskan bahwa fabel merupakan cerita fiksi bermuatan moral yang menggambarkan watak manusia melalui tokoh-tokoh binatang. Melalui fabel, peserta didik diajak memahami nilai kebaikan seperti keikhlasan, kejujuran, kerendahan hati, dan kasih sayang.
Linara menyampaikan bahwa sastra fabel memiliki posisi penting dalam pembentukan karakter karena cerita yang sederhana dapat menjadi media untuk merefleksikan kehidupan manusia.
“Fabel bukan sekadar cerita tentang hewan. Di balik tokoh dan peristiwa yang disajikan, terdapat gambaran tentang sifat manusia dan berbagai nilai kehidupan. Karena itu, kita perlu membaca fabel dengan lebih cermat agar dapat menemukan pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Linara.
Dalam pemaparannya, Linara juga mengajak peserta didik memahami tiga unsur intrinsik fabel, yaitu karakter tokoh, konflik, dan dialog. Karakter tokoh dapat dikenali melalui tindakan, pemikiran, dan ucapan. Sementara itu, konflik menjadi bagian yang menggerakkan alur cerita, sedangkan dialog berfungsi menghidupkan cerita sekaligus mempertegas karakter setiap tokoh.
Untuk memperdalam pemahaman, materi kemudian diarahkan pada kisah Sang Jalak dan Sang Penyu. Dalam cerita tersebut, Sang Jalak digambarkan ceria tetapi terburu-buru dan mudah panik ketika menghadapi persoalan. Sebaliknya, Sang Penyu memiliki karakter tenang, bijaksana, dan penuh kasih sayang kepada sahabatnya. Latar cerita berada di tepi Sungai Serayu menjelang musim hujan, ketika persahabatan kedua tokoh tersebut diuji.
Koordinator Kelas Unggulan Sastra, H. Surya Widhi Prakosa, menilai bimbingan semacam ini penting untuk memberikan pengalaman belajar sastra yang tidak berhenti pada kemampuan memahami teks.
“Pembelajaran sastra harus mampu membawa peserta didik dari sekadar membaca menuju kemampuan memahami, menghayati, dan mengambil nilai dari sebuah karya. Fabel menjadi salah satu media yang sangat dekat dengan peserta didik untuk menanamkan karakter melalui cerita yang menarik,” tuturnya.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Peserta didik diminta membaca teks fabel dengan penuh perhatian, kemudian menganalisis karakter tokoh, konflik, dan dialog. Mereka juga diarahkan menghubungkan nilai moral dalam cerita dengan pengalaman serta kehidupan nyata. Tahapan tersebut dirancang melalui proses mindful reading, deep analysis, meaningful reflection, dan joyful output.
Salah satu peserta didik kelas 8B, Naura, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut. “Saya jadi memahami bahwa membaca fabel tidak hanya mencari tahu jalan ceritanya. Kita juga bisa melihat karakter setiap tokoh dan mengambil pelajaran yang sesuai untuk kehidupan kita,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Pradanta. Menurutnya, diskusi kelompok membuat proses memahami cerita menjadi lebih menarik karena setiap anggota dapat menyampaikan pendapat dan sudut pandangnya.
“Ketika berdiskusi, kami bisa saling bertukar pendapat tentang karakter tokoh dan pesan moral cerita. Saya belajar bahwa kerendahan hati, ketenangan, dan kasih sayang sangat penting ketika menghadapi masalah maupun berinteraksi dengan teman,” katanya.
Nilai moral yang ditekankan dalam kegiatan tersebut meliputi ketenangan dan ketabahan dalam menghadapi masalah, kerendahan hati dalam menerima masukan dan bekerja sama, serta kasih sayang dengan saling membantu tanpa menghakimi.
Melalui bimbingan mingguan ini, Kelas 8 Unggulan Sastra tidak hanya diarahkan untuk semakin terampil mengapresiasi karya sastra, tetapi juga mampu menjadikan sastra sebagai cermin untuk membangun sikap dan karakter positif. Kegiatan ditutup dengan penyusunan hasil diskusi dan persiapan presentasi kelompok sebagai bentuk keberanian peserta didik dalam menyampaikan gagasan secara percaya diri. (Fy)
