Bimbingan Sastra Kelas 7 Madtsansa Asah Kreativitas Lewat “Puisi Super Kece dan Orisinal”

Banjarnegara — Kelas 7 Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali mengikuti kegiatan bimbingan sastra mingguan pada Sabtu (5/9). Bertempat di ruang kelas 7 Unggulan Sastra, kegiatan kali ini mengangkat materi “Puisi Super Kece dan Orisinal” yang disampaikan oleh pembimbing sastra Madtsansa, Fitriyanto. Kegiatan menjadi ruang bagi para murid untuk mengenal puisi secara lebih dekat sekaligus mengembangkan kreativitas melalui permainan kata, imajinasi, dan ekspresi diri.

Materi bimbingan dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan karakter generasi muda. Puisi tidak diperkenalkan sekadar sebagai tugas pembelajaran Bahasa Indonesia yang terikat pada aturan, tetapi sebagai media untuk menyampaikan pikiran, emosi, pengalaman, maupun cerita keseharian melalui susunan kata yang memiliki ritme, estetika, dan makna. Dalam bahan pembelajaran disebutkan bahwa puisi dapat menjadi sarana menyulap perasaan menjadi sebuah karya yang kreatif dan penuh makna.

Koordinator Kelas Unggulan Sastra Madtsansa, H. Surya Widhi Prakosa, menyampaikan bahwa bimbingan sastra mingguan menjadi bagian penting dalam membangun karakter literasi sekaligus kreativitas murid.

“Kelas Unggulan Sastra tidak hanya mengarahkan murid untuk mampu menulis, tetapi juga bagaimana mereka memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan dan perasaan melalui karya. Melalui bimbingan seperti ini, kami ingin murid menemukan suara dan gaya mereka sendiri. Puisi menjadi salah satu media yang sangat baik untuk melatih kepekaan, imajinasi, dan kreativitas,” ungkapnya.

Dalam penyampaian materi, Fitriyanto mengajak murid memahami bahwa kekuatan puisi tidak hanya terletak pada penggunaan kata-kata yang indah, tetapi juga pada kejujuran dan keaslian gagasan. Murid didorong untuk menghasilkan karya sendiri, bukan sekadar meniru atau menyalin karya orang lain.

Menurut Fitriyanto, karya yang orisinal merupakan cerminan karakter penciptanya.

“Puisi yang menarik tidak harus selalu menggunakan kata-kata yang rumit. Yang paling penting adalah ada sesuatu yang ingin disampaikan dan itu benar-benar berasal dari pemikiran serta perasaan penulisnya. Karena itu, anak-anak harus berani menjadi diri sendiri, mengeksplorasi kata, dan tidak takut menghasilkan puisi dengan gaya yang berbeda,” jelasnya.

Materi juga mengenalkan enam jenis puisi yang dapat dipilih sesuai suasana hati maupun gagasan yang hendak disampaikan, yakni elegi, epigram, himne, ode, balada, dan puisi bebas. Elegi dapat digunakan untuk mengungkapkan kesedihan, kehilangan, atau kerinduan. Epigram berisi nasihat atau motivasi. Himne merupakan puisi berupa pujian dan ungkapan syukur, sedangkan ode digunakan untuk mengungkapkan kekaguman terhadap sesuatu yang dianggap istimewa. Balada menghadirkan cerita atau kisah, sementara puisi bebas memberikan keleluasaan kepada penulis dalam berekspresi tanpa terikat aturan rima, jumlah bait, maupun baris. Fitriyanto juga membimbing murid melalui langkah sederhana dalam menciptakan puisi. Proses dimulai dengan menentukan tema atau “vibe”, dilanjutkan dengan melakukan brainstorming kata-kata yang berkaitan dengan topik, merangkainya menjadi bait dengan memanfaatkan majas dan pancaindra, kemudian melakukan penyuntingan akhir dengan membaca ulang, merasakan irama, dan memberikan judul yang menarik.

Murid kelas 7 Unggulan Sastra, Zahra, mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam memahami puisi.

“Biasanya saya berpikir puisi itu harus menggunakan kata-kata yang sulit dan harus selalu berima. Setelah mengikuti bimbingan ini, saya jadi tahu bahwa puisi bisa dibuat dengan gaya yang lebih bebas. Yang penting ide dan perasaan kita bisa tersampaikan dengan baik,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Fae. Menurutnya, materi yang diberikan membuat proses menulis puisi terasa lebih menyenangkan dan tidak lagi menjadi sesuatu yang sulit.

“Saya paling tertarik ketika diajarkan untuk mencari kata-kata dari tema yang kita pilih sendiri. Dari beberapa kata sederhana ternyata bisa dikembangkan menjadi sebuah puisi. Saya jadi ingin mencoba membuat puisi yang benar-benar berasal dari pengalaman dan imajinasi saya sendiri,” katanya.

Selain mengenalkan jenis dan langkah penulisan puisi, kegiatan juga menekankan pentingnya penggunaan majas, pelibatan pancaindra, permainan irama dan rima, serta kejujuran dalam berkarya. Unsur-unsur tersebut dinilai dapat membuat puisi lebih hidup sekaligus membantu penulis menemukan karakter bahasanya sendiri.

Bimbingan sastra mingguan ini diharapkan semakin memperkuat budaya literasi di Kelas 7 Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara. Melalui kegiatan yang konsisten, para murid tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya sastra, tetapi juga dilatih menjadi pribadi yang kreatif, percaya diri, peka terhadap lingkungan, serta mampu mengolah pengalaman menjadi karya yang bermakna.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan utama materi bahwa murid perlu menjadi pencipta, bukan sekadar peniru. Karya yang dibuat sendiri dapat membantu membentuk karakter dan gaya bahasa sekaligus menghadirkan kebanggaan ketika karya tersebut dibacakan maupun diapresiasi oleh orang lain.

Melalui “Puisi Super Kece dan Orisinal”, ruang kelas 7 Unggulan Sastra pun menjadi tempat bagi para murid untuk belajar bahwa setiap perasaan, pengalaman, dan imajinasi memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi karya. Dari kata-kata sederhana, mereka belajar menciptakan puisi yang unik, jujur, dan menjadi representasi dari suara mereka sendiri. (Lin)