Dua Guru MTs Negeri 1 Banjarnegara Dipercaya Jadi Juri Pidato Putri Porseni MI Banjarmangu 2026

Banjarnegara — Kompetensi dan pengalaman guru MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali mendapat kepercayaan di tingkat kecamatan. Dua guru Madtsansa, Linara dan Yuliana, dipercaya menjadi dewan juri lomba pidato putri dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah Ibtidaiyah (MI) tingkat Kecamatan Banjarmangu tahun 2026.

Kegiatan lomba dilaksanakan pada Kamis (3/9) di MIC Sijeruk, Banjarmangu. Keduanya mendapat amanah dari panitia untuk menyeleksi dan memberikan penilaian terhadap 13 peserta yang berasal dari berbagai MI di wilayah Kecamatan Banjarmangu. Para peserta berkompetisi untuk memperoleh predikat terbaik sekaligus memperebutkan kesempatan melaju mewakili Kecamatan Banjarmangu pada Porseni MI tingkat Kabupaten Banjarnegara.

Kepercayaan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam mendukung pengembangan bakat dan potensi peserta didik madrasah, khususnya dalam bidang seni pidato dan kemampuan berkomunikasi.

Dalam pelaksanaan penilaian, para juri tidak hanya melihat keberanian peserta tampil di hadapan publik, tetapi juga memperhatikan sejumlah aspek yang telah ditetapkan dalam petunjuk teknis lomba. Penilaian meliputi vokal dan artikulasi sebesar 30 persen, isi pidato dan tata bahasa 30 persen, serta penampilan sebesar 40 persen.

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada dua guru Madtsansa tersebut. Menurutnya, keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan di luar madrasah merupakan bagian dari kontribusi nyata dalam membangun ekosistem pendidikan madrasah yang lebih luas.

“Kepercayaan kepada Ibu Linara dan Ibu Yuliana untuk menjadi juri tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ini menunjukkan bahwa kompetensi guru Madtsansa tidak hanya dibutuhkan di lingkungan madrasah, tetapi juga dapat memberikan kontribusi dalam kegiatan pendidikan dan seni di tingkat kecamatan,” ungkap H. Yatiman.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi ruang bagi para guru untuk terus mengembangkan kompetensi sekaligus memperluas jejaring kerja sama antarmadrasah.

“Semoga amanah ini dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, objektif, dan profesional. Kami juga berharap pengalaman menjadi juri dapat memberikan manfaat bagi guru sekaligus ikut mendorong lahirnya peserta didik madrasah yang berani, percaya diri, komunikatif, dan berprestasi,” lanjutnya.

Linara, salah satu juri lomba, menyampaikan bahwa menjadi bagian dari dewan juri merupakan pengalaman sekaligus tanggung jawab yang harus dijalankan secara profesional. Menurutnya, setiap peserta memiliki kelebihan dan karakter penampilan masing-masing sehingga proses penilaian harus dilakukan secara cermat berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan.

“Kami berusaha memberikan penilaian secara objektif sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Setiap peserta tentu memiliki keunggulan masing-masing, baik dari sisi vokal, penguasaan materi, maupun penampilan. Karena itu, kami harus benar-benar mencermati setiap aspek agar hasil penilaian dapat dipertanggungjawabkan,” tutur Linara.

Hal senada disampaikan Yuliana. Ia menilai keberanian para peserta untuk tampil di hadapan juri dan penonton merupakan modal penting yang perlu diapresiasi. Menurutnya, lomba pidato tidak semata-mata menjadi ajang untuk menentukan juara, tetapi juga menjadi sarana melatih keberanian, kemampuan berkomunikasi, dan penguasaan materi.

“Yang paling menarik dari lomba seperti ini adalah melihat keberanian anak-anak untuk tampil. Mereka belajar menyampaikan gagasan dengan bahasa yang baik dan percaya diri. Tentu ada perbedaan kemampuan di antara peserta, tetapi semuanya sudah menunjukkan usaha yang luar biasa,” jelas Yuliana.

Ketua panitia, Imam Budiyanto, menyampaikan terima kasih atas kesediaan Linara dan Yuliana menjadi juri dalam lomba pidato putri Porseni MI tingkat Kecamatan Banjarmangu. Menurutnya, kehadiran juri yang kompeten menjadi bagian penting untuk memastikan proses perlombaan berjalan objektif dan menghasilkan peserta terbaik.

“Kami berterima kasih kepada Ibu Linara dan Ibu Yuliana yang telah bersedia menjadi juri. Kami membutuhkan juri yang memahami bidang pidato sekaligus mampu memberikan penilaian secara objektif. Harapannya, hasil yang diperoleh benar-benar dapat menggambarkan kemampuan peserta,” ujar Imam.

Ia menambahkan bahwa peserta yang berhasil menjadi juara nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi pada tingkat Kabupaten Banjarnegara.

Pelaksanaan lomba sendiri berlangsung dengan mengacu pada ketentuan teknis yang telah ditetapkan panitia. Dalam juknis, peserta diwajibkan menyampaikan pidato tanpa membaca teks ketika tampil, dengan tema “Bangga Sekolah di Madrasah” yang mencakup subtema pembentukan generasi berkarakter di era digital serta penciptaan ruang aman bagi murid di madrasah. Durasi penyampaian pidato ditetapkan selama tujuh menit.

Penentuan kejuaraan dilakukan melalui sidang dewan juri dengan kategori Juara 1, 2, dan 3. Keterlibatan Linara dan Yuliana dalam ajang tersebut menjadi bukti bahwa guru madrasah memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan, bukan hanya sebagai pendidik di ruang kelas, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan potensi peserta didik madrasah di berbagai jenjang dan wilayah. (Fy)