
Banjarnegara — Kelas Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara memasuki pekan pertama pelaksanaan bimbingan harian sebagai bagian dari program intensif menuju penerbitan antologi karya sastra. Program yang dilaksanakan setiap hari ini menjadi ruang pendampingan sekaligus evaluasi berkelanjutan bagi murid untuk mengembangkan ide, memperkuat teknik penulisan, serta menyempurnakan karya sastra mereka hingga layak dihimpun dalam sebuah buku antologi.
Pada semester ganjil tahun pelajaran 2026/2027, Kelas Unggulan Sastra Madtsansa menetapkan target karya berbeda untuk setiap jenjang. Murid kelas 7 diarahkan menghasilkan Antologi Puisi, kelas 8 menyusun Antologi Fabel, sedangkan kelas 9 diproyeksikan menghasilkan Antologi Plot Twist. Ketiga jenis karya tersebut menjadi proyek literasi yang tidak hanya menekankan produktivitas menulis, tetapi juga proses kreatif, ketajaman pengamatan, pengolahan bahasa, dan kemampuan membangun gagasan.
Bimbingan harian dilaksanakan dengan membagi setiap kelas ke dalam beberapa kelompok. Melalui sistem tersebut, pembimbing dapat memberikan perhatian secara lebih intensif kepada karya masing-masing murid. Dalam satu hari, pembimbing mengevaluasi sedikitnya delapan karya anak, baik dari sisi ide, struktur, pilihan kata, alur, karakter, maupun kekuatan pesan yang hendak disampaikan.
Menariknya, proses bimbingan tidak terikat pada satu tempat tertentu. Pembimbing dan murid dapat melaksanakan proses evaluasi di ruang kelas, beranda madrasah, ruang pembimbing, serambi masjid, hingga taman. Fleksibilitas tempat tersebut sengaja dihadirkan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih rileks sekaligus memberikan pengalaman berbeda kepada murid dalam menemukan dan mengembangkan gagasan.
Pembimbing kelas 7, Fitriyanto, menyampaikan bahwa bimbingan harian menjadi proses penting untuk membangun kebiasaan menulis sekaligus mengasah kepekaan murid terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Menulis puisi membutuhkan kepekaan. Karena itu, anak-anak tidak cukup hanya duduk di depan meja dan menunggu ide datang. Mereka perlu melihat, merasakan, mendengar, dan mengalami. Bimbingan harian ini kami manfaatkan untuk menajamkan indra mereka agar hal-hal sederhana di sekitar dapat diolah menjadi gagasan yang bernilai,” ujarnya.
Sementara itu, pembimbing kelas 8, Linara, menilai fleksibilitas tempat bimbingan memberikan suasana yang berbeda sehingga murid lebih terbuka dalam menyampaikan gagasan dan menerima masukan.
“Fabel membutuhkan imajinasi sekaligus kemampuan membangun cerita. Ketika bimbingan dilakukan dengan suasana yang lebih santai, anak-anak cenderung lebih lepas mengeksplorasi ide. Kami ingin mereka tidak sekadar menyelesaikan tulisan, tetapi benar-benar menikmati proses menjadi penulis,” tutur Linara.
Hal senada disampaikan pembimbing kelas 9, Risky Arbangi Nopi, yang menekankan pentingnya proses penyuntingan dalam menghasilkan karya plot twist yang kuat.
“Plot twist tidak lahir hanya dari ide yang mengejutkan. Ada proses membangun alur, menanamkan petunjuk, mengatur konflik, kemudian menghadirkan kejutan yang tetap logis. Karena itu, bimbingan harian menjadi ruang untuk meruncingkan intuisi anak dalam melihat bagaimana sebuah cerita dapat dibangun dan diakhiri dengan kuat,” jelasnya.
Bagi murid, bimbingan harian memberikan pengalaman belajar sastra yang berbeda. Zahra, murid kelas 7, mengaku mendapatkan banyak masukan untuk memperbaiki puisinya. “Awalnya saya berpikir puisi hanya tentang memilih kata-kata yang indah. Setelah dibimbing, saya belajar bahwa pengalaman dan perasaan juga harus diolah supaya puisi memiliki makna,” ungkapnya.
Murid kelas 8, Bianca, merasakan manfaat bimbingan terutama dalam mengembangkan karakter dan alur fabel. “Kami jadi lebih berani mencoba ide yang sebelumnya terasa sulit. Masukan dari pembimbing membuat cerita kami menjadi lebih terarah dan tidak sekadar menceritakan hewan sebagai tokoh,” katanya.
Sementara Hafiza, murid kelas 9, menyebut proses bimbingan membantunya memahami pentingnya detail dalam membangun cerita. “Kami belajar bahwa kejutan dalam cerita harus dipersiapkan sejak awal. Detail kecil ternyata bisa menjadi petunjuk penting untuk membuat pembaca penasaran,” ujarnya.
Pekan pertama bimbingan harian ini menjadi langkah awal perjalanan panjang Kelas Unggulan Sastra Madtsansa menuju antologi. Dengan pendampingan intensif, evaluasi rutin, suasana belajar yang fleksibel, serta keberanian murid mengeksplorasi berbagai pengalaman, program ini diharapkan mampu melahirkan karya-karya sastra yang autentik, berkualitas, dan mencerminkan kreativitas generasi muda Madtsansa. (Lin)
