Bimbingan Sastra Mingguan Kelas 8 Unggulan Sastra Madtsansa Fokus Dalami Struktur dan Unsur Intrinsik Fabel

Banjarnegara — Kelas 8 Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali melaksanakan Bimbingan Sastra Mingguan pada Kamis (20/8). Kegiatan yang menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan kelas unggulan sastra tersebut diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik menghasilkan karya sastra yang berkualitas pada semester ganjil tahun ajaran 2026/2027.

Pada semester ini, kelas 8 Unggulan Sastra menargetkan penerbitan sebuah buku antologi fabel karya para siswa. Untuk mewujudkan target tersebut, peserta didik mendapatkan pendampingan secara rutin melalui kegiatan bimbingan sastra mingguan. Pada pertemuan kali ini, materi yang diberikan berfokus pada struktur dan unsur intrinsik fabel dengan pembimbing Linara, salah satu tim sastra Madtsansa.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami fabel secara lebih mendalam, tidak hanya dari sisi cerita, tetapi juga bagaimana sebuah karya fabel dibangun menjadi cerita yang utuh, menarik, dan memiliki pesan yang kuat. Pemahaman mengenai struktur dan unsur intrinsik menjadi bekal penting sebelum siswa mulai mengembangkan ide dan menulis karya untuk antologi.

Wakil Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara urusan Kurikulum, Hj. Yuniyati, menyampaikan bahwa program Unggulan Sastra merupakan salah satu bentuk pengembangan potensi peserta didik melalui pembelajaran yang terarah dan berkelanjutan.

“Bimbingan sastra mingguan ini menjadi bagian penting dalam proses pembinaan anak-anak. Mereka tidak hanya belajar mengenai teori sastra, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan karya. Target penerbitan antologi fabel pada semester ganjil ini kami harapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk terus berproses dan menghasilkan karya terbaik,” ungkapnya.

Menurutnya, proses menghasilkan buku tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan pembiasaan, pendampingan, serta tahapan yang jelas agar siswa mampu memahami proses kreatif sejak menemukan ide, mengembangkan cerita, melakukan penyuntingan, hingga menghasilkan naskah yang siap diterbitkan.

Sementara itu, Linara menjelaskan bahwa materi struktur dan unsur intrinsik fabel dipilih sebagai dasar sebelum siswa memasuki tahap penulisan karya. Siswa perlu memahami bagaimana sebuah cerita dibangun agar fabel yang mereka hasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki alur dan pesan yang jelas.

“Pada pertemuan kali ini kami fokus pada struktur dan unsur intrinsik fabel. Anak-anak kami ajak memahami bagaimana sebuah fabel dibangun, mulai dari bagian-bagian cerita hingga unsur seperti tema, tokoh, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan amanat. Harapannya, pemahaman ini menjadi bekal ketika mereka mulai menulis karya masing-masing,” jelas Linara.

Antusiasme terlihat dari keterlibatan siswa selama kegiatan berlangsung. Mereka mengikuti penjelasan, berdiskusi, serta mencoba mengidentifikasi unsur-unsur pembangun sebuah cerita fabel. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan apresiasi terhadap karya sastra.

Salah satu siswa kelas 8 Unggulan Sastra, Amira, mengaku mendapatkan pemahaman baru melalui materi yang disampaikan.

“Menurut saya materinya sangat membantu karena sebelumnya saya lebih banyak memperhatikan jalan cerita ketika membaca fabel. Sekarang saya jadi lebih memahami bahwa ada banyak unsur yang membuat sebuah cerita menjadi menarik dan memiliki pesan,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Naufal. Ia menilai bimbingan secara rutin membuat dirinya lebih percaya diri untuk mulai mengembangkan ide menjadi sebuah karya.

“Bimbingan seperti ini membuat kami lebih terarah. Kami jadi tahu apa saja yang harus diperhatikan ketika menulis fabel. Saya berharap bisa menghasilkan cerita yang bagus dan ikut berkontribusi dalam buku antologi nanti,” ujarnya.

Melalui Bimbingan Sastra Mingguan, MTs Negeri 1 Banjarnegara terus mendorong siswa kelas 8 Unggulan Sastra untuk menjadikan proses menulis sebagai sebuah kebiasaan. Target penerbitan buku antologi fabel diharapkan tidak sekadar menjadi capaian program, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi siswa dalam mengenal, mencintai, dan menghasilkan karya sastra. Dengan pendampingan yang konsisten, para siswa diharapkan mampu menghasilkan antologi fabel yang merepresentasikan kreativitas dan potensi literasi Madtsansa. (Fy)