
Banjarnegara — Nama MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali berkibar di panggung riset internasional. Membawa inovasi NUTLENS, duo peneliti muda Madtsansa, Tessa dan Gendis, sukses menembus jajaran tujuh karya terbaik internasional dan merebut Platinum Award dalam ajang bergengsi World Sustainable Development Goals Challenge (WSDG) 2026 yang digelar pada 24–27 September 2026 di Malaysia.
Prestasi ini menjadi capaian istimewa karena Platinum Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada karya-karya terbaik dari peraih Gold Award. Dari ratusan peserta internasional yang berkompetisi dalam WSDG 2026, hanya tujuh tim yang berhasil mendapatkan Platinum Award sebagai best of the best pada jenjang tersebut. Salah satu di antaranya adalah tim Indonesia dari MTs Negeri 1 Banjarnegara, Tessa dan Gendis.
Keduanya mengusung penelitian berjudul “NUTLENS: Rapid and Effective Photo-Based Identification of Peanut Pests and Diseases Using a Convolutional Neural Network Application to Assist Local Farmers in Banjarnegara.” Penelitian ini mengembangkan aplikasi berbasis Convolutional Neural Network (CNN) yang memanfaatkan foto untuk membantu mengidentifikasi hama dan penyakit pada tanaman kacang tanah secara cepat dan efektif.
Bagi Tessa, keberhasilan meraih Platinum Award menjadi pengalaman yang sangat berharga. Ia mengaku bersyukur karena penelitian yang dikembangkan bersama Gendis dapat memperoleh apresiasi di tingkat internasional.
“Kami sangat bersyukur dan senang bisa mendapatkan Platinum Award. Awalnya kami tentu berharap penelitian NUTLENS dapat memberikan hasil yang baik, tetapi mendapatkan penghargaan ini menjadi pengalaman yang luar biasa bagi kami. Kami juga belajar banyak selama mengikuti kompetisi, terutama bagaimana mempresentasikan penelitian di hadapan peserta dan juri dari berbagai negara,” ungkap Tessa.
Menurut Tessa, proses mengikuti kompetisi tidak hanya berhenti pada penyusunan penelitian. Berbagai persiapan, mulai dari penyempurnaan gagasan, pengembangan aplikasi, hingga presentasi, menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.
Hal senada disampaikan Gendis. Ia mengatakan bahwa capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan NUTLENS agar tidak berhenti sebagai karya kompetisi.
“Kami merasa sangat bangga sekaligus terharu ketika mengetahui bahwa NUTLENS mendapatkan Platinum Award. Penghargaan ini membuat kami semakin yakin bahwa penelitian yang berangkat dari permasalahan di sekitar kita juga bisa dibawa ke tingkat internasional. Ke depan, kami ingin terus mengembangkan NUTLENS agar bisa semakin bermanfaat, khususnya bagi petani kacang tanah di Banjarnegara,” tutur Gendis.
Keberhasilan Tessa dan Gendis juga menjadi kebanggaan bagi Kelas Unggulan Riset MTs Negeri 1 Banjarnegara. Hj Tri Widayati, selaku koordinator, menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa pembinaan riset di Madtsansa mampu mendorong murid menghasilkan karya yang kompetitif sekaligus memiliki keterkaitan dengan persoalan nyata di masyarakat.
“Platinum Award ini menjadi bukti bahwa murid Madtsansa mampu membawa gagasan lokal ke forum internasional. Yang kami harapkan bukan hanya prestasinya, tetapi juga semangat untuk terus melakukan riset dan menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat,” jelasnya.
Sementara itu, Musfiatul Muniroh, peserta sekaligus pendamping tim, menyampaikan apresiasi atas perjuangan Tessa dan Gendis selama mengikuti rangkaian WSDG 2026.
“Pengalaman di Malaysia menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi Tessa dan Gendis. Mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar berkomunikasi, mempresentasikan gagasan, menerima masukan, dan berinteraksi dengan peneliti muda dari berbagai negara,” ungkap Musfiatul.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H Yatiman, turut menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini semakin menguatkan komitmen Madtsansa dalam mengembangkan budaya riset dan inovasi di kalangan murid.
“Platinum Award WSDG 2026 merupakan prestasi yang sangat membanggakan. NUTLENS menunjukkan bahwa riset murid Madtsansa tidak hanya mampu berkompetisi, tetapi juga mengangkat potensi dan persoalan lokal menjadi sebuah inovasi yang diperkenalkan di tingkat internasional,” ujarnya.
Dengan diraihnya Platinum Award pada WSDG 2026 di Malaysia, Tessa dan Gendis berhasil menempatkan nama Madtsansa sebagai salah satu dari tujuh tim internasional penerima penghargaan tersebut. Capaian ini sekaligus menjadi dorongan bagi ekosistem riset Madtsansa untuk terus melahirkan inovasi yang kreatif, aplikatif, dan berdampak bagi masyarakat. (Lin)
