
Banjarnegara — Kiprah guru MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa) dalam mendukung pengembangan karakter dan kompetensi generasi muda kembali mendapat kepercayaan. Dua guru matematika Madtsansa, Hj. Yuniyati dan Linara, didaulat menjadi bagian dari tim juri lomba Pidato Kebangsaan dalam kegiatan Jambore Pandu Pengenal dan Penghela Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Banjarnegara.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di MIM Mertasari, Mandiraja, Banjarnegara, Selasa (11/8). Berdasarkan surat permohonan dari Panitia Jambore Pandu Pengenal dan Penghela Tahun 2026, kegiatan lomba Pidato Kebangsaan dijadwalkan berlangsung pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.
Dalam kesempatan tersebut, Hj. Yuniyati dipercaya sebagai salah satu juri Lomba Pidato Kebangsaan Putra, sementara Linara menjadi salah satu anggota tim juri Lomba Pidato Kebangsaan Putri. Keduanya menjalankan tugas sebagai juri dengan melakukan penilaian terhadap penampilan peserta sesuai ketentuan lomba yang telah ditetapkan panitia.
Lomba Pidato Kebangsaan menjadi salah satu cabang perlombaan dalam rangkaian Jambore Pandu Pengenal dan Penghela Kwarda Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Banjarnegara. Juknis lomba menetapkan tema pidato bebas dipilih peserta dengan durasi penampilan lima hingga tujuh menit. Peserta tidak diperkenankan membawa atau membaca teks saat tampil, meskipun wajib menyerahkan tiga rangkap teks pidato kepada panitia.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada dua guru Madtsansa tersebut. Menurutnya, keterlibatan guru dalam kegiatan di luar madrasah merupakan bentuk kontribusi positif sekaligus kesempatan untuk berbagi kompetensi dan pengalaman.
“Kepercayaan kepada Ibu Yuniyati dan Ibu Linara sebagai juri merupakan sebuah kehormatan bagi Madtsansa. Kami tentu mengapresiasi dan mendukung keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi pendidikan, khususnya dalam membangun karakter kebangsaan dan keberanian berkomunikasi generasi muda,” ungkap H. Yatiman.
Ia menambahkan, kompetensi seorang guru tidak hanya dibutuhkan di ruang kelas. Kemampuan guru untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan pendidikan dan kepanduan di masyarakat menjadi bagian dari upaya memperluas kemanfaatan madrasah.
Sementara itu, Ketua Panitia Jambore Pandu Pengenal dan Penghela Tahun 2026, Bahron Sodik, menyampaikan apresiasi atas kesediaan para juri untuk mendukung pelaksanaan lomba. Surat resmi panitia memang secara khusus memohon kesediaan menjadi Dewan Juri Pidato Kebangsaan dan meminta para juri hadir sebelum perlombaan untuk mengikuti briefing teknis.
“Kami berterima kasih kepada Ibu Yuniyati dan Ibu Linara yang telah bersedia menjadi bagian dari dewan juri. Kehadiran beliau tentu sangat membantu panitia dalam memastikan lomba berjalan tertib, objektif, dan sesuai ketentuan,” ujar Bahron.
Linara mengungkapkan bahwa menjadi juri Pidato Kebangsaan Putri merupakan pengalaman yang berharga. Ia melihat lomba tersebut bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang bagi para peserta untuk melatih keberanian, kemampuan menyampaikan gagasan, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa.
“Bagi saya, menjadi juri bukan hanya tentang memberikan nilai. Ada tanggung jawab untuk melihat potensi peserta secara utuh, mulai dari kemampuan menyampaikan gagasan, penguasaan materi, keberanian tampil, hingga pesan kebangsaan yang disampaikan. Semoga pengalaman ini menjadi bekal bagi para peserta untuk terus berani berbicara dan menyampaikan gagasan secara positif,” tutur Linara.
Senada dengan Linara, Hj. Yuniyati menyampaikan bahwa keikutsertaannya sebagai juri Pidato Kebangsaan Putra menjadi kesempatan untuk turut mendukung pendidikan karakter melalui kegiatan kepanduan.
“Pidato merupakan sarana untuk melatih kemampuan berpikir sekaligus berkomunikasi. Ketika anak-anak berani berdiri dan menyampaikan gagasan tentang kebangsaan, di situlah proses pembentukan karakter sedang berlangsung. Kami berusaha memberikan penilaian sebaik mungkin sekaligus memberikan apresiasi terhadap keberanian dan potensi setiap peserta,” jelas Yuniyati.
Kegiatan Jambore Pandu Pengenal dan Penghela Kwarda Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Banjarnegara sendiri menjadi ruang pembinaan bagi para peserta melalui berbagai aktivitas kepanduan. Kehadiran dua guru Madtsansa sebagai juri semakin menegaskan sinergi antara madrasah dan organisasi kepanduan dalam mendukung lahirnya generasi muda yang berkarakter, percaya diri, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu berkomunikasi dengan baik.
Bagi Madtsansa, keterlibatan Yuniyati dan Linara menjadi bagian dari kontribusi nyata guru madrasah di tengah masyarakat. Tidak hanya mengajar matematika di ruang kelas, keduanya turut membawa semangat edukasi, keteladanan, dan penguatan karakter dalam berbagai kegiatan yang melibatkan generasi muda.
Dengan pengalaman tersebut, Madtsansa kembali menunjukkan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dan memberikan kontribusi positif dalam berbagai kegiatan pendidikan, kepanduan, dan kemasyarakatan di Kabupaten Banjarnegara. (Lin)
