
Banjarnegara — Penampilan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa) berhasil memikat perhatian ratusan peserta Demo Ekstrakurikuler yang digelar di lapangan indoor Madtsansa, Sabtu (18/7). Mengusung konsep drama edukatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, PMR tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak para murid baru memahami pentingnya kesehatan, keselamatan, dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui alur cerita yang menarik, anggota PMR memperkenalkan berbagai materi dasar yang menjadi ciri khas kegiatan PMR Madya Madtsansa. Penampilan dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu pengenalan jajanan anak sekolah yang aman (PJAS Aman), pengenalan tujuh pilar atau tujuh materi utama PMR Madya Madtsansa, serta drama tentang Ayo Siaga Bencana (ASB) dan Pertolongan Pertama (PP).
Penampilan diawali dengan drama mengenai pentingnya memilih jajanan yang sehat dan aman dikonsumsi. Dalam adegan tersebut diperlihatkan bagaimana murid perlu lebih cermat dalam memilih makanan agar terhindar dari risiko penyakit akibat jajanan yang tidak memenuhi standar kebersihan maupun keamanan pangan. Penyampaian materi dikemas secara ringan dengan dialog yang mengundang tawa sekaligus memberikan pesan edukatif kepada seluruh penonton.
Selanjutnya, anggota PMR memperkenalkan tujuh materi pokok yang dipelajari dalam PMR Madya Madtsansa. Melalui narasi dan dialog yang komunikatif, para pemeran menjelaskan bahwa menjadi anggota PMR bukan sekadar belajar menolong orang lain, tetapi juga membangun karakter peduli, disiplin, tangguh, serta siap memberikan bantuan dalam berbagai kondisi.
Puncak penampilan ditampilkan melalui drama bertema Ayo Siaga Bencana (ASB) dengan mengambil ilustrasi peristiwa kebakaran. Dalam simulasi tersebut, para anggota PMR memperagakan langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran, mulai dari menjaga ketenangan, menyelamatkan diri, hingga menghubungi pihak yang berwenang. Setelah itu, drama berlanjut pada sesi Pertolongan Pertama (PP) yang memperlihatkan penanganan awal terhadap korban kebakaran sesuai prosedur dasar sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Simulasi tersebut mendapat sambutan meriah dari para peserta Demo Ekstrakurikuler. Tidak sedikit murid baru yang tampak antusias mengikuti jalannya cerita karena penyajian yang realistis dan mudah dipahami. Penampilan ini sekaligus menjadi media edukasi agar para siswa memiliki kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di lingkungan sekitar.
Pembina PMR MTs Negeri 1 Banjarnegara, Erma Ratnaningrim, mengatakan bahwa konsep drama dipilih agar materi-materi PMR lebih mudah dipahami oleh murid baru sekaligus mampu menarik minat mereka untuk bergabung.
“Kami ingin menunjukkan bahwa PMR bukan hanya belajar membalut luka atau memberikan pertolongan pertama. Di dalamnya ada banyak materi penting yang membentuk karakter peduli, tanggap, disiplin, dan siap menghadapi berbagai situasi, termasuk bencana. Melalui drama, pesan-pesan tersebut menjadi lebih hidup dan mudah diingat,” ungkap Erma.
Salah satu anggota PMR yang turut tampil, Raisa Alin, mengaku senang dapat berpartisipasi dalam Demo Ekstrakurikuler tahun ini. Menurutnya, latihan yang dilakukan selama beberapa hari akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.
“Kami berusaha memberikan penampilan terbaik agar teman-teman kelas VII bisa melihat bahwa PMR adalah ekstrakurikuler yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Semoga mereka tertarik bergabung dan belajar bersama kami,” ujarnya.
Hal senada disampaikan anggota PMR lainnya, Narendra, yang berperan dalam simulasi kebakaran. Ia berharap penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menambah pengetahuan peserta mengenai langkah-langkah menghadapi keadaan darurat.
“Kami ingin teman-teman tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran dan bagaimana memberikan pertolongan pertama kepada korban secara tepat. Pengetahuan seperti ini sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Narendra.
Antusiasme juga datang dari murid baru kelas VII, Iqbal, yang mengaku terkesan dengan penampilan PMR karena berbeda dari yang ia bayangkan.
“Saya kira PMR hanya belajar mengobati orang sakit. Setelah melihat drama tadi, ternyata kegiatannya banyak sekali dan sangat menarik. Saya jadi ingin ikut PMR karena bisa belajar membantu orang lain,” tuturnya.
Sementara itu, Mikaila, peserta kelas VII lainnya, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari penampilan tersebut.
“Drama tentang kebakaran membuat saya tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Cara penyampaiannya juga seru sehingga mudah dipahami. Saya jadi semakin tertarik mengenal kegiatan PMR Madtsansa,” katanya.
Melalui penampilan yang kreatif, komunikatif, dan sarat edukasi, Ekstrakurikuler PMR MTs Negeri 1 Banjarnegara berhasil menunjukkan bahwa menjadi relawan muda berarti siap belajar, peduli, dan hadir memberikan manfaat bagi sesama. Demo Ekstrakurikuler ini pun menjadi momentum bagi PMR Madtsansa untuk menginspirasi generasi baru agar tumbuh sebagai pelajar yang sehat, tangguh, serta memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. (Lin)
