
Banjarnegara — Tiga guru MTs Negeri 1 Banjarnegara mengikuti Survei Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui platform digital SAHABAT KBC (Sistem Analisis Humanis Berbasis Transparansi), Selasa (20/10/2026). Ketiga guru tersebut adalah Saeful Anwar, guru Bahasa Arab, Ardian Apriliana, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta Agustina Dewi Merdekawati, guru Bahasa Inggris.
Keikutsertaan ketiga guru Madtsansa, sebutan MTs Negeri 1 Banjarnegara, menjadi bagian dari upaya pengumpulan data untuk mengetahui sejauh mana implementasi Kurikulum Berbasis Cinta telah dipahami dan diterapkan di lingkungan madrasah. Survei ini diharapkan menghasilkan informasi yang akurat sebagai bahan evaluasi dan penguatan kebijakan pendidikan madrasah ke depan.
Pelaksanaan survei dilakukan secara digital melalui aplikasi SAHABAT KBC sesuai jadwal yang telah ditetapkan bagi madrasah yang masuk dalam Batch 3, yakni pada 20–22 Oktober 2026. Responden dipilih secara acak, sekitar lima persen dari populasi guru dan murid di madrasah berdasarkan data EMIS. Guru yang terpilih diminta menjawab 60 soal, sedangkan murid mengisi 35 soal.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan bahwa keikutsertaan guru dalam survei tersebut merupakan bentuk partisipasi madrasah dalam mendukung program Kementerian Agama, khususnya untuk memperkuat pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta.
“Survei ini menjadi kesempatan bagi madrasah untuk memberikan gambaran mengenai pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta dalam kegiatan pendidikan sehari-hari. Kami mendukung penuh partisipasi guru yang terpilih agar dapat mengisi instrumen survei dengan sungguh-sungguh, jujur, dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya,” ungkapnya.
Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar konsep yang dipahami secara teoritis, melainkan nilai yang perlu diwujudkan melalui proses pembelajaran, pembiasaan, serta interaksi antara guru dan murid. Pendidikan yang dilandasi cinta diharapkan mampu membangun lingkungan madrasah yang humanis, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik.
“Guru memiliki peran penting dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan pembentukan akhlak, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama. Karena itu, evaluasi seperti ini penting untuk mengetahui hal-hal yang sudah berjalan baik sekaligus aspek yang masih perlu ditingkatkan,” tambahnya.
Saeful Anwar, guru Bahasa Arab yang menjadi salah satu responden, menyambut baik pelaksanaan survei tersebut. Menurutnya, pengisian instrumen survei menjadi sarana untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai cinta dapat diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa di madrasah.
“Pembelajaran Bahasa Arab tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata, tata bahasa, dan keterampilan berkomunikasi. Di dalamnya juga terdapat kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, membangun sikap saling menghargai, serta menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu. Saya berharap hasil survei ini dapat menjadi bahan refleksi bagi guru untuk terus memperbaiki pembelajaran,” tuturnya.
Sementara itu, Ardian Apriliana, guru BK Madtsansa, menilai Kurikulum Berbasis Cinta memiliki keterkaitan erat dengan pendampingan perkembangan pribadi dan sosial murid. Baginya, pendekatan yang humanis diperlukan agar peserta didik merasa dihargai dan memperoleh ruang untuk berkembang.
“Dalam layanan bimbingan dan konseling, hubungan yang dilandasi empati, kepedulian, dan sikap tidak menghakimi sangat penting. Nilai-nilai cinta dapat membantu guru memahami kebutuhan murid secara lebih utuh. Melalui survei ini, kami berharap pelaksanaan KBC semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter peserta didik,” jelasnya.
Agustina Dewi Merdekawati, guru Bahasa Inggris, juga mengapresiasi kesempatan untuk terlibat dalam survei tingkat nasional tersebut. Ia memandang nilai-nilai KBC dapat diterapkan melalui kegiatan belajar yang komunikatif, kolaboratif, dan memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk berpartisipasi.
“Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru dapat membangun suasana kelas yang positif dengan mendorong murid saling membantu, menghargai perbedaan kemampuan, dan berani menyampaikan pendapat. Bagi saya, Kurikulum Berbasis Cinta menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembelajaran juga ditentukan oleh kualitas hubungan antara guru dan murid,” ungkapnya.
Survei Implementasi KBC mengukur delapan dimensi, meliputi pemahaman konsep dan nilai dasar, perencanaan pembelajaran, implementasi di kelas, budaya madrasah, dukungan sarana dan regulasi, refleksi, dampak nyata bagi murid, serta kemitraan dengan pihak luar.
Melalui partisipasi tiga guru tersebut, MTs Negeri 1 Banjarnegara berharap dapat turut menyukseskan pengumpulan data implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Hasil evaluasi diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat budaya pendidikan yang mengedepankan nilai kemanusiaan, kepedulian, dan pembentukan karakter, sejalan dengan komitmen Madtsansa dalam menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu dan berorientasi pada perkembangan murid secara menyeluruh. (Lin)
