
Banjarnegara — Kreativitas dan semangat menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ditunjukkan oleh salah satu guru MTs Negeri 1 Banjarnegara. Tri Rochani, guru Prakarya Madtsansa, berhasil membuat pakaian adat Papua secara mandiri yang dikenakannya saat mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada Senin (17/8/2026).
Uniknya, pakaian adat tersebut tidak dibuat menggunakan bahan mahal atau sulit ditemukan. Tri memanfaatkan sejumlah bahan sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, di antaranya kantong plastik, kertas minyak, dan kardus. Dengan kreativitas dan keterampilan yang dimiliki, bahan-bahan tersebut disulap menjadi busana bernuansa khas Papua yang menarik dan sarat nilai edukasi.
Penampilan Tri dengan pakaian adat hasil karyanya menjadi perhatian tersendiri dalam pelaksanaan upacara. Selain menunjukkan kecintaan terhadap budaya Nusantara, karya tersebut sekaligus menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dapat diwujudkan melalui pemanfaatan bahan-bahan sederhana.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H Yatiman, mengapresiasi kreativitas yang ditunjukkan Tri Rochani. Menurutnya, apa yang dilakukan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan yang mendorong guru maupun siswa untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya.
“Ini merupakan kreativitas yang sangat baik. Bu Tri mampu memanfaatkan bahan-bahan sederhana menjadi sesuatu yang bernilai dan menarik. Terlebih, pakaian adat Papua yang dibuat juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan keberagaman budaya Indonesia dalam momentum peringatan kemerdekaan,” ujar H Yatiman.
Ia menambahkan, semangat seperti itu penting untuk terus dikembangkan di lingkungan madrasah. Kreativitas tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal, tetapi lebih membutuhkan kemauan, ide, ketekunan, dan kemampuan mengolah sesuatu yang sederhana menjadi karya yang memiliki nilai.
“Semoga kreativitas seperti ini dapat menginspirasi guru dan siswa Madtsansa untuk terus berkarya. Kemerdekaan juga dapat kita maknai dengan menghadirkan karya-karya positif yang bermanfaat dan membanggakan,” lanjutnya.
Tri Rochani menjelaskan bahwa ide membuat pakaian adat Papua muncul dari keinginannya untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI. Sebagai guru Prakarya, ia juga ingin menunjukkan secara langsung bahwa bahan sederhana dan barang yang ada di sekitar dapat dimanfaatkan menjadi karya kreatif.
“Saya ingin membuat pakaian adat yang sederhana, tetapi tetap memiliki karakter dan menarik untuk dikenakan saat upacara. Karena itu saya mencoba memanfaatkan kantong plastik, kertas minyak, dan kardus yang kemudian dibentuk dan dirangkai sedemikian rupa,” ungkap Tri.
Menurutnya, proses pembuatan membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setiap bagian harus disesuaikan agar pakaian dapat dikenakan dengan nyaman sekaligus tetap menampilkan nuansa pakaian adat Papua.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita berani mencoba. Dari bahan sederhana ternyata bisa menjadi sesuatu yang menarik. Mudah-mudahan karya ini juga bisa menjadi contoh bagi siswa bahwa kreativitas bisa dimulai dari apa yang ada di sekitar kita,” katanya.
Kreativitas Tri juga mendapat apresiasi dari teman sejawatnya, Amri Inayati. Ia menilai karya tersebut tidak hanya unik dari sisi tampilan, tetapi juga menunjukkan kemampuan guru dalam memberikan teladan kreativitas kepada peserta didik.
“Menurut saya, Bu Tri sangat kreatif. Pemanfaatan kantong plastik, kertas minyak, dan kardus menjadi pakaian adat Papua menunjukkan bahwa barang sederhana pun bisa memiliki nilai seni jika diolah dengan ide dan keterampilan,” tutur Amri.
Apresiasi serupa disampaikan Sahira, siswa kelas 8E MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ia mengaku tertarik melihat pakaian adat yang dibuat sendiri oleh gurunya.
“Menurut saya sangat kreatif dan keren. Saya jadi tahu bahwa bahan seperti plastik dan kardus ternyata bisa dibuat menjadi pakaian. Ini membuat saya semakin tertarik untuk mencoba membuat karya sendiri,” ujar Sahira.
Karya Tri Rochani menjadi salah satu warna tersendiri dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di MTs Negeri 1 Banjarnegara. Kreativitas tersebut tidak sekadar menghadirkan penampilan unik, tetapi juga membawa pesan tentang kecintaan terhadap budaya Indonesia, semangat berkarya, serta pentingnya memanfaatkan bahan sederhana secara kreatif dan bertanggung jawab. (Fy)
