
Banjarnegara — Rangkaian penelitian untuk ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tahun 2026 terus dilakukan oleh siswa kelas 9 unggulan riset MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa). Salah satunya dilakukan oleh tim riset Tessa dan Gilsa yang tengah mengembangkan inovasi alat pendingin evaporatif untuk penyimpanan buah carica tanpa menggunakan energi listrik.
Pada Kamis (6/8), Tessa dan Gilsa melaksanakan salah satu tahapan penting dalam penelitiannya, yakni proses pembakaran granula di tungku pembakaran batu bata yang berada di wilayah Panggisari. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembuatan material yang akan digunakan dalam pengembangan inovasi penelitian mereka.
Dalam proses tersebut, granula yang telah dipersiapkan sebelumnya dibakar menggunakan tungku dengan teknik pembakaran yang lazim digunakan dalam proses produksi batu bata. Tahapan ini dilakukan untuk memperoleh karakteristik material yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, terutama sebagai bagian dari clay-based cooling wall yang nantinya diharapkan mampu membantu menciptakan kondisi penyimpanan yang lebih sejuk melalui prinsip pendinginan evaporatif.
Tessa dan Gilsa terlihat terlibat langsung dalam proses tersebut. Keduanya melakukan pengamatan terhadap granula serta membantu proses pemindahan dan penataan material sebelum maupun sesudah pembakaran. Kegiatan di lapangan menjadi pengalaman penting bagi keduanya untuk memahami secara langsung bagaimana material penelitian diproses dan bagaimana karakteristiknya dapat memengaruhi hasil akhir inovasi.
Koordinator Kelas Unggulan Riset MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Tri Widayati, menyampaikan apresiasinya terhadap kesungguhan Tessa dan Gilsa dalam menjalani setiap tahapan penelitian.
“Penelitian tidak hanya dilakukan di dalam laboratorium atau di atas kertas. Anak-anak perlu belajar bagaimana sebuah ide penelitian diwujudkan melalui proses yang panjang, termasuk ketika mereka harus turun langsung ke lapangan. Apa yang dilakukan Tessa dan Gilsa ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kemauan untuk belajar dan berproses,” tuturnya.
Menurut Tri Widayati, kegiatan penelitian semacam ini juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga bagi siswa. Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan sebuah produk atau laporan penelitian, tetapi juga belajar tentang ketelitian, kerja sama, pemecahan masalah, serta keberanian mencoba sesuatu yang baru.
Sementara itu, pembimbing riset H. Nurwachidin Supriyatno menjelaskan bahwa proses pembakaran granula merupakan salah satu tahapan yang perlu dilakukan secara cermat karena akan berpengaruh terhadap karakteristik material yang digunakan dalam penelitian.
“Setiap tahapan dalam penelitian ini memiliki tujuan. Granula yang dibakar diharapkan memiliki karakteristik yang sesuai untuk dikembangkan sebagai bagian dari clay-based cooling wall. Karena itu, anak-anak kami dampingi untuk melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap proses yang mereka lakukan,” jelasnya.
Nurwachidin menambahkan, penelitian Tessa dan Gilsa berangkat dari persoalan nyata, yakni kebutuhan teknologi penyimpanan carica yang sederhana, hemat energi, dan dapat diterapkan tanpa ketergantungan pada listrik. Pendekatan pendinginan evaporatif dipilih sebagai salah satu alternatif yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Bagi Tessa dan Gilsa, pengalaman melakukan pembakaran granula secara langsung menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian mereka menuju OPSI 2026.
“Kami belajar bahwa penelitian ternyata membutuhkan banyak proses dan ketelitian. Tidak cukup hanya memiliki ide, tetapi harus mencoba, mengamati hasilnya, kemudian memperbaiki jika ada yang belum sesuai,” ungkap Tessa.
Senada dengan itu, Gilsa mengatakan bahwa proses penelitian membuat dirinya semakin memahami pentingnya kerja sama dalam menyelesaikan sebuah proyek ilmiah.
“Kami saling berbagi tugas dan berdiskusi ketika menemukan kendala. Semoga material yang kami proses ini bisa memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan penelitian dan membantu kami mengembangkan alat penyimpanan carica tanpa listrik,” ujarnya.
Melalui tahapan demi tahapan tersebut, Tessa dan Gilsa terus mematangkan penelitian mereka. Proses pembakaran granula di Panggisari menjadi salah satu langkah konkret dalam perjalanan mereka menghadirkan inovasi berbasis material lokal sekaligus mengasah kemampuan riset siswa Madtsansa untuk berkompetisi di OPSI Tahun 2026. (Lin)
