Tiga Buku Antologi Kelas Unggulan Sastra Madtsansa Resmi Terbit, Bukti Nyata Tradisi Literasi Siswa

Banjarnegara — Prestasi literasi kembali ditorehkan MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa) melalui terbitnya tiga buku antologi karya siswa dari tiga jenjang Kelas Unggulan Sastra tahun ajaran 2025/2026. Ketiga buku tersebut menjadi bukti nyata komitmen Madtsansa dalam menumbuhkan budaya literasi sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk menuangkan gagasan, imajinasi, pengalaman, dan kreativitas mereka dalam karya yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Tiga buku yang berhasil diterbitkan tersebut masing-masing mewakili karya siswa kelas 7, 8, dan 9 Kelas Unggulan Sastra. Kelas 7 menghasilkan antologi cerpen berjudul “Ketika Kata Menjadi Cahaya, Langit Kecil Penuh Cerita” dengan pembimbing Linara. Kelas 8 menerbitkan antologi naskah drama berjudul “Di Antara Dua Dunia” di bawah bimbingan Surya Widhi Prakosa, S.Pd. Sementara itu, kelas 9 menghasilkan buku antologi Write Traveler berjudul “Lulus di Hati, Tertahan di Jalan” dengan pembimbing Risky Arbangi Nopi, S.Pd., M.Pd.

Kehadiran ketiga buku tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran sastra di Madtsansa tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi diarahkan pada proses kreatif hingga menghasilkan karya yang memiliki bentuk nyata. Siswa diajak untuk membaca, menemukan ide, menulis, melakukan penyuntingan, berdiskusi, hingga berproses menjadi penulis yang mampu menghasilkan karya secara bersama-sama.

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, mengapresiasi terbitnya tiga buku antologi tersebut. Menurutnya, karya literasi siswa merupakan bagian penting dari upaya madrasah membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kreatif dan menuangkan gagasan melalui tulisan.

“Terbitnya tiga buku ini merupakan pencapaian yang membanggakan. Anak-anak tidak hanya belajar sastra di dalam kelas, tetapi mampu mengubah ide dan pengalaman mereka menjadi karya yang terdokumentasi. Ini menjadi bukti bahwa Madtsansa terus memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan menunjukkan kreativitasnya,” ungkap H. Yatiman.

Ia berharap karya tersebut menjadi awal dari lahirnya karya-karya berikutnya. Menurutnya, budaya menulis harus terus dirawat karena kemampuan menuangkan gagasan melalui tulisan merupakan salah satu bekal penting bagi generasi masa depan.

Pembimbing Kelas 7 Sastra, Linara, menjelaskan bahwa antologi “Ketika Kata Menjadi Cahaya, Langit Kecil Penuh Cerita” merupakan kumpulan cerpen yang lahir dari proses kreatif siswa. Melalui cerpen, siswa belajar membangun tokoh, alur, konflik, suasana, sekaligus menyampaikan pesan melalui bahasa yang mereka pilih sendiri.

“Menulis cerpen mengajarkan anak-anak bahwa setiap pengalaman, imajinasi, dan kegelisahan bisa menjadi cerita. Buku ini menjadi ruang bagi mereka untuk menemukan suara dan gaya kepenulisan masing-masing. Harapannya, setelah buku ini terbit, mereka semakin percaya diri untuk terus menulis,” tutur Linara.

Sementara itu, pembimbing kelas 8 Sastra, Surya Widhi Prakosa, S.Pd., mengatakan bahwa “Di Antara Dua Dunia” menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan menulis naskah drama sekaligus memahami bagaimana sebuah cerita dapat dibangun melalui dialog, karakter, dan konflik.

“Menulis naskah drama membutuhkan kreativitas sekaligus kemampuan bekerja sama. Anak-anak belajar bahwa sebuah cerita bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dapat dihidupkan melalui tokoh dan dialog. Proses inilah yang menjadi pengalaman berharga bagi mereka,” jelas Surya.

Kebanggaan juga dirasakan siswa. Amira, siswa kelas 7 Sastra, mengaku senang dapat melihat tulisannya bersama karya teman-teman menjadi sebuah buku yang diterbitkan.

“Awalnya saya merasa menulis cerpen itu sulit. Namun, setelah dibimbing dan mencoba berkali-kali, ternyata menyenangkan. Ketika akhirnya tulisan kami menjadi sebuah buku, rasanya bangga sekali. Saya jadi ingin terus menulis,” ungkap Amira.

Hal senada disampaikan Danendra, siswa kelas 8 Sastra. Menurutnya, proses penyusunan antologi “Di Antara Dua Dunia” memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan ide menjadi sebuah naskah drama.

“Kami belajar bahwa membuat karya membutuhkan proses. Kami berdiskusi, memperbaiki tulisan, dan belajar dari teman. Terbitnya buku ini membuat saya semakin termotivasi untuk berkarya,” ujar Danendra.

Adapun buku kelas 9, “Lulus di Hati, Tertahan di Jalan”, menjadi karya yang merekam perjalanan dan refleksi siswa melalui tulisan Write Traveler. Buku tersebut sekaligus menjadi jejak literasi siswa kelas 9 sebelum menuntaskan pendidikan di Madtsansa.

Terbitnya tiga buku antologi ini menjadi kado istimewa dari Kelas Unggulan Sastra Madtsansa. Dari kata yang ditulis, dialog yang dirangkai, hingga perjalanan yang dikisahkan, para siswa telah membuktikan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, melainkan perjalanan menemukan diri, mengasah kreativitas, serta meninggalkan jejak karya.

Tiga jenjang, tiga genre, satu semangat: menulis untuk berkarya, berkarya untuk menginspirasi. (Fy)