
Banjarnegara — Kepala Madrasah dan 50 guru atau pendidik MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa) mengikuti pengisian Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) 2026 secara serentak pada Sabtu (25/7). Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan Madtsansa tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Sulingjar 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan sebagai instrumen untuk memotret dan mengukur kualitas lingkungan belajar di satuan pendidikan.
Sulingjar 2026 dilaksanakan secara nasional pada 20 Juli hingga 17 Agustus 2026. Responden dalam survei ini adalah seluruh kepala sekolah atau madrasah serta guru atau pendidik yang telah terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Pengisian Sulingjar di Madtsansa diikuti oleh Kepala Madrasah H. Yatiman bersama 50 guru. Kegiatan dipandu oleh Linara selaku penanggung jawab pengisian Sulingjar Madtsansa. Sebelum pengisian dimulai, peserta mendapatkan arahan mengenai teknis pelaksanaan, termasuk mekanisme login dan penggunaan token yang telah disiapkan oleh admin madrasah.
Seluruh peserta kemudian melakukan login menggunakan token masing-masing yang sebelumnya telah diunduh oleh admin madrasah. Dengan tertib, para guru mengisi instrumen survei sesuai dengan kondisi lingkungan belajar dan proses pembelajaran yang mereka alami di Madtsansa.
Sulingjar merupakan salah satu instrumen penting dalam pemetaan mutu pendidikan. Survei ini dirancang untuk memperoleh gambaran mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan lingkungan belajar, termasuk kualitas pembelajaran, iklim keamanan, serta iklim inklusivitas di satuan pendidikan.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan bahwa partisipasi GTK dalam Sulingjar merupakan bentuk komitmen madrasah dalam mendukung upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan.
“Sulingjar bukan sekadar kegiatan pengisian survei, tetapi menjadi bagian dari upaya kita untuk memberikan gambaran mengenai kondisi nyata lingkungan belajar di madrasah. Karena itu, saya berharap seluruh GTK mengisi dengan sungguh-sungguh, jujur, dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya,” ungkap H. Yatiman.
Menurutnya, data yang dihasilkan melalui Sulingjar dapat menjadi bahan refleksi bagi madrasah untuk melihat berbagai aspek yang sudah berjalan dengan baik sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
“Madrasah harus terus bergerak melakukan evaluasi dan perbaikan. Data dari Sulingjar dapat menjadi salah satu bahan bagi kami untuk menentukan langkah-langkah peningkatan mutu pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar yang semakin aman, nyaman, inklusif, dan mendukung perkembangan peserta didik,” lanjutnya.
Sementara itu, Linara selaku penanggung jawab pengisian Sulingjar Madtsansa menjelaskan bahwa pelaksanaan secara serentak dilakukan untuk memastikan seluruh responden dapat menyelesaikan pengisian sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
“Pada hari ini kami melaksanakan pengisian Sulingjar secara serentak bersama kepala madrasah dan 50 guru. Sebelumnya, token masing-masing peserta telah diunduh oleh admin madrasah sehingga pada saat pelaksanaan setiap responden dapat langsung melakukan login menggunakan token masing-masing,” jelas Linara.
Ia menambahkan, pendampingan dilakukan agar seluruh peserta dapat mengikuti tahapan pengisian dengan lancar. “Kami memastikan secara teknis seluruh peserta dapat mengakses instrumen Sulingjar dan menyelesaikan pengisian dengan baik. Harapannya, tidak ada kendala sehingga seluruh responden dapat berpartisipasi secara optimal,” imbuhnya.
Salah satu guru Madtsansa, Arif Widayanto, guru Matematika, menilai Sulingjar memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan refleksi terhadap kondisi lingkungan belajar di madrasah.
“Menurut saya, Sulingjar menjadi sarana refleksi bagi guru. Kita diajak melihat kembali bagaimana proses pembelajaran berlangsung, bagaimana kondisi lingkungan belajar, serta aspek-aspek lain yang mendukung kenyamanan dan keamanan peserta didik. Semoga hasilnya dapat menjadi bahan perbaikan bersama,” tuturnya.
Senada dengan Arif, guru PKn Madtsansa, Pratiwi Indah Pangestu, mengapresiasi pelaksanaan Sulingjar sebagai bagian dari evaluasi mutu pendidikan.
“Pengisian Sulingjar cukup penting karena guru dapat menyampaikan kondisi yang ada berdasarkan pengalaman nyata di madrasah. Harapannya, data yang terkumpul tidak berhenti sebagai laporan, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan belajar dan pembelajaran,” ujarnya.
Pelaksanaan Sulingjar 2026 di Madtsansa berlangsung tertib dan lancar. Melalui survei ini, madrasah turut berkontribusi dalam menyediakan data yang dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan perbaikan mutu pendidikan. Hasil pemetaan diharapkan mampu menjadi pijakan bagi satuan pendidikan maupun pemerintah dalam merancang kebijakan dan program peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
Dengan partisipasi aktif seluruh kepala madrasah dan guru, Madtsansa menunjukkan komitmennya untuk terus melakukan refleksi, evaluasi, dan perbaikan demi menghadirkan lingkungan belajar yang berkualitas serta pembelajaran yang semakin aman, nyaman, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. (Fy)
