Dua Tim Riset Madtsansa Optimalkan Tahap Eksperimen di Labkesmas Banjarnegara, Persiapkan Inovasi Menuju OPSI 2026

Banjarnegara — Komitmen MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa) dalam mengembangkan budaya riset terus diwujudkan melalui pendampingan intensif kepada peserta Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tahun 2026. Pada Senin (20/7), dua tim riset Madtsansa melaksanakan penelitian lanjutan di Laboratorium Mikrobiologi Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Banjarnegara sebagai bagian dari penyempurnaan produk penelitian yang tengah dikembangkan.

Kedua tim yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Tim Nydia–Zaskya dan Tim Zulfi–Zizi. Selama berada di laboratorium, mereka mendapatkan pendampingan langsung dari laboran Labkesmas, Ines dan Faza, sehingga setiap tahapan penelitian dapat dilakukan sesuai prosedur laboratorium dan standar keselamatan kerja.

Tim Nydia–Zaskya memfokuskan kegiatan pada proses pembuatan butiran biochar sekam padi serta proses cross-linking ionik sebagai tahap penting dalam pembentukan material penelitian mereka. Untuk mendukung proses tersebut, tim memanfaatkan berbagai fasilitas laboratorium, di antaranya magnetic stirrer-hot plate, timbangan analitik, gelas beker, klem dan statif, serta kulkas sebagai media penyimpanan sampel.

Sementara itu, Tim Zulfi–Zizi melaksanakan serangkaian kegiatan berupa homogenisasi ulang sampel, proses pencetakan (casting) film, hingga pengeringan film menggunakan oven selama kurang lebih 12 jam. Berbagai peralatan laboratorium seperti gelas beker, gelas ukur, cawan petri, pinset, dan oven digunakan untuk memastikan hasil penelitian memiliki kualitas yang optimal.

Laboran Labkesmas, Ines, mengapresiasi semangat dan keseriusan para siswa Madtsansa selama menjalankan penelitian.

“Kami melihat kedua tim memiliki persiapan yang baik sebelum memasuki laboratorium. Mereka sudah memahami alur penelitian yang akan dilakukan sehingga proses eksperimen berjalan lebih efektif. Tugas kami adalah memastikan setiap tahapan dilakukan sesuai prosedur laboratorium agar hasil yang diperoleh valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ungkap Ines.

Hal senada disampaikan laboran Faza, yang menilai kemampuan siswa Madtsansa dalam mengikuti prosedur laboratorium semakin berkembang.

“Anak-anak sangat antusias dan cepat beradaptasi dengan penggunaan alat laboratorium. Mereka juga disiplin dalam menerapkan keselamatan kerja. Pendampingan seperti ini sangat penting agar mereka tidak hanya menghasilkan produk penelitian, tetapi juga memahami metode ilmiah yang benar,” jelasnya.

Perwakilan Tim Nydia–Zaskya, Nidya, mengungkapkan bahwa proses penelitian kali ini menjadi tahapan yang cukup menentukan karena berkaitan dengan pembentukan material utama penelitian.

“Hari ini kami fokus pada pembuatan butiran biochar sekam padi dan proses cross-linking ionik. Tahapan ini membutuhkan ketelitian karena berpengaruh terhadap karakteristik produk yang akan kami uji selanjutnya. Kami bersyukur dapat menggunakan fasilitas laboratorium yang lengkap sehingga proses penelitian berjalan lancar,” ujarnya.

Senada dengan itu, Zaskya mengatakan pengalaman melakukan penelitian langsung di laboratorium profesional memberikan banyak pengetahuan baru.

“Kami belajar mengoperasikan berbagai alat laboratorium dengan benar sekaligus memahami pentingnya menjaga ketelitian dalam setiap proses. Pengalaman ini tentu sangat berharga untuk meningkatkan kualitas penelitian kami menjelang OPSI,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Tim Zulfi–Zizi, Zulfi, menjelaskan bahwa proses homogenisasi dan pencetakan film memerlukan konsistensi agar menghasilkan sampel yang seragam.

“Kami melakukan homogenisasi ulang agar campuran benar-benar merata sebelum dicetak menjadi film. Setelah itu sampel harus dikeringkan di dalam oven selama sekitar 12 jam agar memperoleh struktur yang sesuai dengan kebutuhan penelitian,” jelas Zulfi.

Rekan satu timnya, Zizi, menambahkan bahwa setiap tahapan penelitian menjadi pengalaman berharga yang melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan bekerja sama.

“Penelitian mengajarkan kami bahwa hasil yang baik tidak bisa diperoleh secara instan. Semua proses harus dilakukan dengan sabar dan teliti. Kami berharap penelitian ini dapat memberikan hasil terbaik dan membawa nama baik Madtsansa pada ajang OPSI,” tuturnya.

Koordinator Kelas Unggulan Riset MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Tri Widayati, menyampaikan apresiasi atas semangat belajar yang ditunjukkan kedua tim selama menjalani penelitian di Labkesmas.

“Kegiatan di laboratorium merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran berbasis riset. Melalui pengalaman langsung ini, siswa tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan sikap ilmiah. Kami berharap kedua tim dapat terus menyempurnakan penelitian mereka sehingga siap bersaing pada ajang OPSI Tahun 2026,” ungkapnya.

Melalui pendampingan berkelanjutan dan pemanfaatan fasilitas laboratorium yang memadai, MTs Negeri 1 Banjarnegara terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang inovatif, kreatif, dan berprestasi di bidang penelitian. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa budaya riset telah tumbuh kuat di lingkungan Madtsansa sebagai bekal menghadapi kompetisi ilmiah di tingkat yang lebih tinggi. (Lin)