Bimbingan Harian Minggu Ketiga Kelas Unggulan Sastra Madtsansa Fokus Matangkan Karya Antologi

Banjarnegara — Kelas Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali melaksanakan bimbingan harian pada minggu ketiga sebagai bagian dari proses pembinaan intensif kemampuan literasi dan kepenulisan peserta didik. Kegiatan yang berlangsung pada 24–26 September 2026 tersebut diikuti peserta didik kelas 7B, 8B, dan 9B dengan fokus utama pada evaluasi, penyempurnaan, serta revisi karya yang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari antologi sastra semester gasal Tahun Ajaran 2026/2027.

Bimbingan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan karakteristik karya masing-masing jenjang. Peserta didik kelas 7B mendapatkan pendampingan untuk mengevaluasi dan merevisi karya puisi. Sementara itu, kelas 8B berfokus pada evaluasi dan revisi cerita dalam rangka penyusunan antologi buku dongeng fabel. Adapun kelas 9B melakukan evaluasi dan revisi konsep cerita untuk antologi buku Plot Twist.

Pada kelas 7B, peserta didik diarahkan untuk meninjau kembali karya puisi yang telah mereka tulis. Proses evaluasi mencakup pemilihan kata atau diksi, penggunaan majas, kesesuaian makna, serta unsur keindahan puisi. Melalui pendampingan pembimbing, peserta didik diberikan kesempatan memperbaiki bagian-bagian yang masih kurang sehingga karya yang dihasilkan semakin kuat dan memiliki karakter.

Kegiatan serupa juga berlangsung di kelas 8B. Peserta didik melakukan evaluasi terhadap naskah dongeng fabel dengan menelaah alur cerita, penokohan, penggunaan bahasa, ejaan, hingga kesesuaian pesan moral yang hendak disampaikan. Diskusi bersama pembimbing menjadi ruang bagi peserta didik untuk memperoleh masukan sekaligus mengembangkan kembali ide cerita agar lebih menarik dan komunikatif.

Sementara itu, peserta didik kelas 9B mendapatkan tantangan yang lebih kompleks melalui proses evaluasi konsep cerita Plot Twist. Mereka meninjau kembali ide, alur, tokoh, latar, konflik, hingga unsur kejutan yang menjadi kekuatan utama cerita. Setiap peserta didik memperoleh masukan untuk memperkuat keterkaitan antarunsur cerita sekaligus memperbaiki kelemahan konsep yang ditemukan dalam proses evaluasi.

Wakil Kepala Urusan Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati, menyampaikan bahwa bimbingan harian menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi yang tidak hanya berorientasi pada menghasilkan karya, tetapi juga membiasakan peserta didik menjalani proses kreatif secara bertahap.

“Dalam menulis, proses evaluasi dan revisi merupakan bagian yang sangat penting. Anak-anak tidak hanya belajar menghasilkan tulisan, tetapi juga belajar membaca kembali karyanya, menemukan kekurangan, menerima masukan, kemudian memperbaikinya. Proses inilah yang diharapkan dapat membentuk keterampilan menulis sekaligus sikap terbuka terhadap evaluasi,” ungkapnya.

Pembimbing sastra juga menegaskan bahwa karya yang baik membutuhkan proses yang tidak instan. Menurutnya, bimbingan minggu ketiga diarahkan agar peserta didik mampu melihat karya mereka secara lebih kritis.

“Anak-anak kami dorong untuk tidak cepat merasa selesai setelah tulisan pertama dibuat. Justru setelah karya selesai ditulis, proses berikutnya adalah membaca ulang, mengevaluasi, dan melakukan revisi. Dari proses tersebut akan terlihat bagian yang perlu diperkuat, baik dari sisi ide, bahasa, alur maupun penyampaian pesan,” jelas Risky Arbangi Nopi pembimbing sastra kelas 9.

Antusiasme peserta didik terlihat selama kegiatan berlangsung. Arfa, peserta didik kelas 9 unggulan sastra, mengatakan bahwa proses evaluasi membuat dirinya lebih memahami bahwa membangun cerita Plot Twist membutuhkan perencanaan yang matang.

“Menurut saya, bimbingan kali ini membantu kami melihat cerita dari sudut pandang yang berbeda. Setelah mendapatkan masukan, saya jadi mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki agar alur cerita lebih kuat dan kejutan di dalam cerita tidak terasa dipaksakan,” ujar Arfa.

Hal senada disampaikan Qistina, peserta didik kelas 8 unggulan sastra. Ia mengaku mendapatkan pengalaman berharga melalui proses revisi naskah dongeng fabel.

“Awalnya saya mengira setelah cerita selesai ditulis berarti sudah selesai. Ternyata masih banyak yang harus diperiksa lagi, seperti pilihan kata, alur, tokoh, dan pesan yang ingin disampaikan. Dari bimbingan ini saya belajar bahwa revisi justru membuat cerita menjadi lebih baik,” tutur Qistina.

Rangkaian bimbingan harian minggu ketiga tersebut menjadi bagian dari komitmen Kelas Unggulan Sastra Madtsansa dalam membangun keterampilan literasi peserta didik secara berkelanjutan. Melalui proses menulis, mengevaluasi, berdiskusi, dan merevisi, peserta didik tidak hanya dipersiapkan untuk menghasilkan karya antologi, tetapi juga dibiasakan memiliki ketelitian, kreativitas, daya kritis, dan ketekunan dalam berkarya.

Dengan pendampingan yang dilakukan secara konsisten, karya-karya peserta didik kelas 7B, 8B, dan 9B diharapkan semakin matang, berkualitas, serta mampu merepresentasikan kreativitas dan perkembangan kemampuan literasi peserta didik MTs Negeri 1 Banjarnegara. (Fy)