
Semarang — Upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif di lingkungan madrasah terus diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Profil Belajar Siswa (PBS) dan Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang digelar selama dua hari, Rabu hingga Kamis (15–16 April 2026), di Kota Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur pengelola pendidikan madrasah, termasuk Kepala Urusan Tata Usaha Aida Wachdah Hikmawati dan Wakil Kepala Urusan Kesiswaan Ikhsanudin.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas satuan kerja madrasah dalam menyusun Profil Belajar Siswa sekaligus membentuk Unit Layanan Disabilitas sebagai bentuk pemenuhan hak peserta didik berkebutuhan khusus. Berdasarkan undangan resmi, kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi penguatan pendidikan inklusif di madrasah.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan mulai dari sosialisasi kebijakan, pemaparan materi teknis, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di masing-masing satuan pendidikan. Materi tentang Unit Layanan Disabilitas menekankan pentingnya kehadiran sistem layanan yang mampu memberikan akses pendidikan yang setara bagi seluruh siswa tanpa terkecuali. Sementara itu, sosialisasi Profil Belajar Siswa difokuskan pada pengenalan instrumen pemetaan kebutuhan belajar siswa sebagai dasar penyusunan strategi pembelajaran yang lebih adaptif.
Kepala Urusan Tata Usaha, Aida Wachdah Hikmawati, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru yang sangat penting bagi pengelolaan administrasi pendidikan di madrasah. Menurutnya, keberadaan PBS dan ULD tidak hanya menjadi tuntutan kebijakan, tetapi juga kebutuhan nyata di lapangan.
“Melalui kegiatan ini, kami mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif terkait bagaimana mengelola data peserta didik secara lebih sistematis melalui Profil Belajar Siswa. Selain itu, pembentukan Unit Layanan Disabilitas menjadi langkah konkret dalam memastikan bahwa seluruh siswa mendapatkan layanan pendidikan yang adil dan setara,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Kepala Urusan Kesiswaan, Ikhsanudin, yang menilai bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan tugas dan fungsi bidang kesiswaan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara guru, tenaga kependidikan, dan manajemen madrasah dalam mengimplementasikan hasil sosialisasi.
“Bidang kesiswaan memiliki peran strategis dalam memastikan setiap siswa mendapatkan perhatian sesuai kebutuhannya. Dengan adanya PBS, kami dapat lebih mudah mengidentifikasi karakteristik dan kebutuhan belajar siswa. Sementara ULD akan menjadi wadah layanan khusus yang sangat membantu siswa berkebutuhan khusus untuk berkembang secara optimal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kepala Madrasah H Yatiman memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa sosialisasi ini menjadi momentum penting dalam transformasi layanan pendidikan di madrasah menuju sistem yang lebih inklusif dan humanis.
“Kami sangat mendukung implementasi Profil Belajar Siswa dan pembentukan Unit Layanan Disabilitas di madrasah. Ini bukan hanya program administratif, tetapi bagian dari komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang ramah bagi semua. Kami berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh peserta didik,” tutur H Yatiman.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen bersama seluruh warga madrasah. Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong adanya tindak lanjut nyata melalui pembentukan tim khusus serta penyusunan kebijakan internal yang mendukung implementasi PBS dan ULD.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan di madrasah masing-masing. Implementasi Profil Belajar Siswa dan Unit Layanan Disabilitas diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan bagi seluruh peserta didik. (Lin)
