
Banjarnegara — Kelas Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara melaksanakan kegiatan finalisasi karya semester ganjil Tahun Ajaran 2026/2027 pada Sabtu (31/10). Kegiatan ini menjadi tahapan akhir proses kreatif seluruh murid kelas unggulan sastra dalam menyelesaikan karya tulis yang akan dihimpun menjadi antologi sesuai dengan target masing-masing jenjang.
Finalisasi karya merupakan batas akhir penyusunan naskah sebelum memasuki tahapan berikutnya, yakni penyuntingan dan persiapan penerbitan antologi. Dalam kegiatan tersebut, para murid mendapatkan pendampingan langsung dari guru pembimbing masing-masing untuk melakukan evaluasi, penyempurnaan, serta revisi terhadap karya yang telah disusun selama satu semester.
Adapun target karya kelas unggulan sastra semester ganjil tahun ini meliputi antologi puisi untuk kelas 7, antologi fabel untuk kelas 8, dan antologi cerpen plot twist untuk kelas 9. Ketiga jenis karya tersebut dirancang untuk mengembangkan kemampuan literasi, kreativitas, imajinasi, serta keterampilan menulis murid secara bertahap sesuai dengan karakteristik dan perkembangan kemampuan masing-masing jenjang.
Pelaksanaan finalisasi berlangsung di tiga lokasi berbeda sesuai kesepakatan antara guru pembimbing dan murid. Kelas 7 bersama pembimbing Fitriyanto melaksanakan kegiatan di ruang kelas 7B. Kelas 8 bersama Linara menempati Masjid Darul Ulum, sedangkan kelas 9 bersama Risky Arbangi Nopi melaksanakan finalisasi di ruang kelas.
Guru pembimbing kelas 7, Fitriyanto, menyampaikan bahwa tahap finalisasi menjadi kesempatan penting bagi murid untuk memastikan setiap puisi yang ditulis benar-benar memiliki kekuatan gagasan, pilihan kata, dan keindahan penyampaian.
“Menulis puisi bukan sekadar merangkai kata-kata indah, tetapi juga bagaimana murid mampu menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalaman melalui bahasa yang memiliki makna. Pada tahap finalisasi ini, kami mengarahkan mereka untuk membaca kembali puisinya, memperhatikan pilihan diksi, memperbaiki larik yang kurang tepat, serta memastikan setiap puisi memiliki karakter dan keunikan masing-masing,” ungkapnya.
Menurut Fitriyanto, proses pendampingan tidak hanya berorientasi pada terselesaikannya sebuah buku antologi, tetapi juga pada tumbuhnya keberanian murid untuk mengekspresikan pemikiran melalui karya sastra. Ia berharap antologi puisi kelas 7 dapat menjadi dokumentasi perjalanan awal murid dalam mengenal dan menekuni dunia kepenulisan.
Salah satu murid kelas 7, Alenna, mengungkapkan bahwa kegiatan finalisasi membuatnya semakin memahami pentingnya ketelitian dalam menulis puisi. Ia mengaku mendapatkan banyak masukan yang membantunya menyempurnakan karya.
“Awalnya saya merasa puisi yang saya buat sudah cukup baik. Namun, setelah dibaca dan didiskusikan bersama pembimbing, ternyata masih ada beberapa bagian yang bisa diperbaiki, terutama dalam pemilihan kata dan penyampaian makna. Saya senang karena bisa belajar membuat puisi yang lebih baik. Semoga puisi kami nantinya bisa dinikmati banyak pembaca,” tuturnya.
Sementara itu, pembimbing kelas 8, Linara, menjelaskan bahwa penyusunan antologi fabel memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan kreativitas melalui cerita yang menghadirkan tokoh-tokoh binatang dengan berbagai karakter dan persoalan kehidupan.
“Fabel memiliki keunikan karena cerita dapat dikemas secara imajinatif melalui tokoh-tokoh binatang, tetapi tetap membawa pesan moral yang dekat dengan kehidupan manusia. Dalam finalisasi ini, kami mencermati alur cerita, karakter tokoh, dialog, serta pesan yang ingin disampaikan. Harapannya, setiap cerita tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga memberikan pembelajaran bagi pembacanya,” jelas Linara.
Pradanta, murid kelas 8, mengaku bahwa menyelesaikan cerita fabel hingga tahap finalisasi merupakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus menantang. Menurutnya, menyusun cerita membutuhkan kreativitas agar tokoh dan jalan cerita dapat tersaji secara menarik.
“Saya belajar bahwa membuat cerita fabel tidak cukup hanya menentukan tokoh binatang dan memberikan dialog. Ceritanya juga harus memiliki alur yang jelas dan pesan yang bisa dipahami pembaca. Melalui bimbingan ini, saya bisa memperbaiki bagian-bagian cerita yang masih kurang. Saya berharap karya kami dapat menjadi bacaan yang menghibur sekaligus bermanfaat,” ungkapnya.
Adapun kelas 9 yang dibimbing Risky Arbangi Nopi berfokus pada penyempurnaan antologi cerpen plot twist. Genre ini menuntut kemampuan murid dalam membangun konflik, mengembangkan karakter, mengatur alur, serta menghadirkan kejutan pada bagian akhir cerita.
Risky Arbangi Nopi menyampaikan bahwa menulis cerpen plot twist membutuhkan perencanaan cerita yang matang agar kejutan yang dihadirkan tidak terkesan dipaksakan.
“Bagian terpenting dalam cerpen plot twist adalah bagaimana penulis mampu membangun rasa penasaran pembaca sejak awal hingga akhir cerita. Kejutan yang muncul harus tetap logis dan memiliki keterkaitan dengan rangkaian peristiwa sebelumnya. Dalam finalisasi ini, kami mengulas kembali struktur cerita, kekuatan konflik, penempatan petunjuk, serta ketepatan penyelesaian cerita,” paparnya.
Danendra, salah satu murid kelas 9, menyampaikan bahwa proses finalisasi menjadi pengalaman berharga karena dirinya dapat melihat kembali perkembangan kemampuan menulis setelah mengikuti berbagai kegiatan bimbingan sastra.
“Menulis cerpen plot twist memberikan tantangan tersendiri karena kami harus memikirkan bagaimana membuat pembaca penasaran dan menghadirkan akhir cerita yang tidak mudah ditebak. Masukan dari pembimbing sangat membantu kami menemukan bagian yang perlu diperkuat. Saya berharap cerpen yang kami hasilkan bisa memberikan pengalaman membaca yang menarik bagi pembaca,” ujarnya.
Melalui kegiatan finalisasi ini, Kelas Unggulan Sastra Madtsansa menegaskan komitmennya dalam membangun budaya literasi dan melahirkan karya-karya kreatif dari lingkungan madrasah. Ketiga antologi yang tengah disiapkan diharapkan tidak sekadar menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga menjadi bukti proses belajar, keberanian berekspresi, dan perkembangan kemampuan literasi para murid.
Dengan berakhirnya tahap finalisasi, seluruh murid diharapkan dapat memastikan naskah terbaiknya siap memasuki proses penyempurnaan berikutnya. Semangat berkarya ini menjadi salah satu langkah Madtsansa dalam mewujudkan generasi yang literat, kreatif, produktif, dan mampu menghadirkan karya sastra yang inspiratif. (Fy)
