
Banjarnegara — Podcast Madtsansa Ada Apa kembali hadir dengan episode terbaru yang mengangkat kisah inspiratif para atlet muda MTs Negeri 1 Banjarnegara. Memasuki edisi ke-30, podcast besutan Tim Media Madtsansa tersebut menghadirkan dua atlet Madtsansa yang berkiprah dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026, yakni Shelia dari cabang olahraga bulu tangkis putri dan Arkan dari cabang olahraga wushu putra.
Episode bertajuk “Keringat, Kerja Keras, dan Kepak Sayap Garuda Madtsansa: Jejak Shelia dan Arkan di POPDA Provinsi Jawa Tengah 2026” tersebut dipublikasikan pada Rabu (16/9) melalui akun YouTube Madtsansa. Selain tayangan podcast secara utuh, potongan video atau short video juga disebarluaskan melalui seluruh media sosial Madtsansa.
Dalam naskah podcast, kedua atlet berbagi cerita mengenai perjalanan mereka sejak mengenal olahraga, proses seleksi tingkat Kabupaten Banjarnegara, persiapan menuju tingkat provinsi, pengalaman bertanding, hingga dukungan keluarga dan madrasah. Arkan tercatat sebagai atlet wushu yang berhasil meraih medali perunggu, sementara Shelia tampil sebagai wakil Madtsansa pada cabang bulu tangkis putri.
Wakil Kepala Urusan Kesiswaan MTs Negeri 1 Banjarnegara, Ikhsanudin, menyampaikan apresiasi atas kiprah para murid Madtsansa yang mampu membawa nama madrasah ke ajang olahraga tingkat provinsi.
“Keikutsertaan Shelia dan Arkan di POPDA Provinsi Jawa Tengah merupakan pengalaman yang sangat berharga. Prestasi maupun proses yang mereka jalani patut menjadi motivasi bagi murid-murid lainnya bahwa bakat dapat berkembang ketika disertai latihan, kedisiplinan, dan dukungan yang baik,” ungkap Ikhsanudin.
Sementara itu, Linara, host Podcast Madtsansa Ada Apa sekaligus Wakil Kepala Urusan Humas Madtsansa, mengatakan bahwa episode ke-30 sengaja mengangkat cerita para atlet untuk memperlihatkan sisi lain perjuangan murid di balik sebuah pertandingan.
“Podcast ini tidak hanya ingin berbicara tentang medali atau hasil pertandingan. Kami ingin mengajak penonton melihat bagaimana seorang atlet pelajar membagi waktu antara latihan, pendidikan, keluarga, dan tanggung jawab membawa nama daerah maupun madrasah,” tutur Linara.
Shelia dalam perbincangan tersebut menceritakan bahwa dirinya mulai mengenal bulu tangkis sejak kelas 3 SD. Ia kemudian bergabung dengan klub lokal di Banjarnegara dan terus mengembangkan kemampuan hingga menjadi bagian dari Kelas Khusus Olahraga Madtsansa. Menjelang POPDA tingkat provinsi, intensitas latihannya meningkat dan harus diimbangi dengan kewajiban akademik.
“Menjadi atlet sekaligus murid memang harus pandai mengatur waktu. Saya bersyukur mendapat dukungan dari keluarga, pelatih, guru, dan teman-teman Madtsansa. Dukungan tersebut membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkembang,” ujar Shelia.
Adapun Arkan mengungkapkan bahwa dirinya mulai menekuni wushu sejak kelas 5 SD. Baginya, wushu bukan hanya tentang kemampuan fisik, tetapi juga ketepatan teknik, stamina, keberanian, dan pengendalian diri.
“Bagi saya, setiap latihan adalah proses. Medali perunggu yang saya raih menjadi pengalaman sekaligus motivasi untuk berlatih lebih keras lagi. Saya ingin terus meningkatkan kemampuan dan suatu saat dapat membawa nama Banjarnegara serta Madtsansa ke tingkat yang lebih tinggi,” ungkap Arkan.
Menariknya, tayangan tersebut juga mendapat respons dari murid Madtsansa lainnya. Neztya dari kelas 9D, yang juga menekuni olahraga wushu, mengaku mendapatkan motivasi dari cerita Arkan. Menurutnya, pengalaman sesama atlet Madtsansa menunjukkan bahwa latihan keras dan konsistensi dapat membuka kesempatan untuk berprestasi.
“Cerita Arkan membuat saya semakin termotivasi untuk berlatih. Sebagai atlet wushu, saya tahu bahwa proses latihan tidak selalu mudah, tetapi perjuangan itu akan memberikan pengalaman yang sangat berarti,” kata Neztya.
Hal senada disampaikan Kenzie dari kelas 7D. Ia menilai episode tersebut memberikan gambaran bahwa murid Madtsansa dapat mengembangkan prestasi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga olahraga.
“Saya senang melihat kakak-kakak Madtsansa berprestasi. Semoga cerita mereka bisa memotivasi murid lain untuk berani mengejar cita-cita dan tetap semangat belajar,” ujar Kenzie.
Melalui episode ke-30 ini, Podcast Madtsansa Ada Apa kembali menegaskan perannya sebagai ruang berbagi cerita, inspirasi, dan prestasi keluarga besar Madtsansa. Kisah Shelia dan Arkan sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap penampilan di arena terdapat proses panjang berupa latihan, kedisiplinan, keberanian, serta dukungan dari banyak pihak.
“Jangan pernah takut untuk memulai dan jangan pernah takut gagal. Percayalah pada prosesmu,” pesan Shelia dalam podcast tersebut. Sementara Arkan mengajak generasi muda untuk tetap rendah hati dan menjadikan setiap tetes keringat sebagai bagian dari investasi masa depan. (Fy)
