
Banjarnegara — Suasana Rapat Pleno Komite MTs Negeri 1 Banjarnegara Tahun Ajaran 2026/2027 semakin semarak dengan hadirnya penampilan Tari Sabeting Langit. Tarian tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang ditampilkan pada Sabtu (29/8) di lapangan indoor Madtsansa dan menjadi jembatan antara kegiatan pra acara dengan acara inti Rapat Pleno Komite.
Tari Sabeting Langit dibawakan oleh lima penari Madtsansa, yakni Keisha, Aurel, Novita, Zhafira, dan Aisy. Dengan gerakan yang energik, dinamis, serta penuh ekspresi, kelima penari berhasil menghadirkan suasana yang berbeda di tengah rangkaian kegiatan. Penampilan tersebut sekaligus menjadi hiburan bagi para orang tua dan wali murid yang hadir sebelum memasuki agenda utama rapat pleno.
Sejak awal penampilan, kelima penari mampu membangun atmosfer yang penuh semangat. Gerakan tari yang kuat dipadukan dengan ekspresi para penari membuat perhatian seluruh tamu undangan tertuju ke panggung penampilan. Tepuk tangan dan antusiasme para hadirin pun mengiringi penampilan hingga tarian berakhir.
Ketua panitia Rapat Pleno Komite MTs Negeri 1 Banjarnegara, Linara, menyampaikan bahwa penampilan Tari Sabeting Langit sengaja ditempatkan sebagai bagian dari transisi menuju acara inti. Menurutnya, kehadiran seni pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memberikan energi positif kepada para tamu yang mengikuti kegiatan.
“Penampilan Tari Sabeting Langit menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian pra acara. Kami ingin suasana sebelum memasuki acara inti tetap hangat, semarak, dan memberikan semangat kepada seluruh orang tua dan wali murid yang hadir,” ungkap Linara.
Ia menambahkan, pemilihan Tari Sabeting Langit juga menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan potensi seni yang dimiliki oleh murid-murid Madtsansa. Melalui penampilan tersebut, para tamu dapat melihat bahwa madrasah tidak hanya memberikan ruang bagi pengembangan kemampuan akademik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap seni dan budaya.
Tari Sabeting Langit sendiri merupakan karya guru seni tari Madtsansa, Haki Wanudya Tatanggana. Tarian tersebut mengangkat kisah tentang Ujungan, salah satu tradisi budaya masyarakat di daerah Klampok, Banjarnegara. Tradisi Ujungan berkaitan dengan ikhtiar masyarakat dalam memohon turunnya hujan kepada Tuhan.
Haki menjelaskan bahwa gagasan penciptaan Tari Sabeting Langit berangkat dari kekayaan budaya lokal yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Melalui karya tari, nilai-nilai budaya tersebut dikemas dalam bentuk pertunjukan yang lebih dekat dengan dunia anak dan remaja.
“Sabeting Langit terinspirasi dari budaya Ujungan yang ada di daerah Klampok. Di dalamnya terdapat cerita tentang ikhtiar manusia dalam meminta hujan kepada Tuhan. Saya mencoba mengemas nilai budaya tersebut menjadi sebuah karya tari yang memiliki karakter energik sehingga dapat dinikmati sekaligus dikenalkan kepada generasi muda,” jelas Haki.
Ia mengaku bangga melihat kelima penari mampu membawakan karya tersebut dengan penuh energi. Menurutnya, penampilan di hadapan orang tua dan wali murid menjadi pengalaman penting bagi para penari untuk meningkatkan keberanian, kedisiplinan, serta kemampuan berekspresi.
Salah satu penari, Keisha, mengaku senang dapat menjadi bagian dari penampilan tersebut. Baginya, membawakan Tari Sabeting Langit bukan hanya tentang melakukan gerakan tari, tetapi juga menyampaikan cerita budaya kepada para penonton.
“Kami senang bisa tampil di hadapan orang tua dan wali murid. Tari ini gerakannya cukup energik, jadi kami harus benar-benar fokus dan kompak. Kami juga merasa bangga karena melalui tarian ini bisa ikut mengenalkan budaya Ujungan kepada penonton,” tutur Keisha.
Hal senada disampaikan Aurel. Ia mengatakan bahwa persiapan bersama keempat penari lainnya menjadi pengalaman yang berkesan. Kekompakan menjadi salah satu hal utama yang harus dijaga agar penampilan dapat berlangsung maksimal.
“Kami berlatih bersama supaya gerakan dan ekspresi bisa kompak. Saat tampil tadi rasanya senang sekaligus sedikit tegang, tetapi setelah melihat antusiasme penonton, kami menjadi semakin bersemangat,” ujar Aurel.
Penampilan Tari Sabeting Langit pun berhasil menjalankan fungsinya sebagai transisi yang apik antara pra acara dan acara inti. Energi yang ditampilkan lima penari Madtsansa seolah menjadi pembuka semangat bagi seluruh tamu sebelum mengikuti rangkaian Rapat Pleno Komite MTs Negeri 1 Banjarnegara Tahun Ajaran 2026/2027. (Lin)
