Bimbingan Riset Intensif MTs Negeri 1 Banjarnegara Targetkan Proposal KREASI dan LPB Rampung

Banjarnegara — MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya akademik berbasis riset melalui kegiatan bimbingan intensif kelas unggulan riset yang dilaksanakan pada Jumat–Sabtu, 24–25 April. Kegiatan ini berlangsung di laboratorium komputer madrasah dengan fokus utama merampungkan sejumlah proposal penelitian yang akan diikutsertakan dalam ajang KREASI dan LPB.

Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas unggulan riset, khususnya kelas 7A dan 8A, yang secara aktif terlibat dalam proses penyusunan proposal ilmiah. Suasana laboratorium komputer tampak penuh semangat, di mana para siswa bekerja secara kolaboratif, berdiskusi, serta mendapatkan arahan langsung dari para pembimbing.

Koordinator kelas unggulan riset, Hj. Tri Widayati, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan dalam membangun kompetensi riset siswa sejak dini. Ia menegaskan bahwa kemampuan penelitian merupakan keterampilan penting yang perlu diasah secara sistematis.

“Melalui bimbingan ini, kami ingin memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menuangkannya dalam proposal penelitian yang terstruktur dan berkualitas. Target kami jelas, yaitu beberapa proposal siap diajukan pada ajang KREASI dan LPB,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hj. Tri Widayati menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam bimbingan ini bersifat intensif dan partisipatif. Siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilatih untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan tujuan penelitian, hingga menyusun metodologi secara mandiri. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembelajaran riset di madrasah yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam setiap tahapan penelitian .

Pembina riset, Musfiatul Muniroh, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi ajang pendampingan langsung bagi siswa dalam menyempurnakan ide-ide penelitian mereka. Menurutnya, proses penyusunan proposal seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi siswa, sehingga diperlukan bimbingan yang intens dan terarah.

“Kami mendampingi siswa mulai dari pencarian referensi, pengolahan data awal, hingga penyusunan kerangka proposal. Yang terpenting adalah menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan gagasan ilmiah mereka,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada lomba, tetapi juga pada pembentukan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Hal ini sejalan dengan tujuan pembinaan riset di tingkat MTs yang bertujuan meningkatkan kemampuan analisis dan presentasi ilmiah siswa secara menyeluruh .

Salah satu peserta dari kelas 8A, Shafa, mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Ia merasa mendapatkan banyak pengalaman baru, terutama dalam menyusun proposal penelitian yang sebelumnya dianggap sulit.

“Awalnya saya bingung bagaimana memulai proposal, tapi setelah dibimbing, jadi lebih paham langkah-langkahnya. Sekarang saya lebih percaya diri untuk ikut lomba,” ujarnya.

Sementara itu, Abiyyu dari kelas 7A juga menyampaikan kesan positifnya terhadap kegiatan ini. Meski masih berada di kelas awal, ia merasa tertantang untuk belajar lebih dalam tentang dunia penelitian.

“Kegiatan ini seru karena kami belajar langsung praktik, bukan hanya teori. Saya jadi tahu bagaimana mencari ide penelitian dan menyusunnya menjadi proposal,” katanya.

Selama dua hari pelaksanaan, para siswa tampak aktif berdiskusi dengan pembimbing serta saling bertukar ide dengan teman sekelas. Mereka juga memanfaatkan fasilitas laboratorium komputer untuk mencari referensi dan mengembangkan proposal secara digital.

Dengan adanya kegiatan bimbingan intensif ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berinovasi melalui penelitian. Program kelas unggulan riset ini diharapkan menjadi salah satu pilar dalam mewujudkan madrasah yang berdaya saing global berbasis riset dan teknologi.

Kegiatan ditutup dengan evaluasi sementara terhadap draft proposal yang telah disusun siswa. Para pembimbing memberikan masukan untuk penyempurnaan sebelum proposal tersebut diajukan ke ajang KREASI dan LPB. Semangat dan antusiasme siswa selama kegiatan menjadi indikator positif bahwa budaya riset mulai tumbuh kuat di lingkungan madrasah. (Lin)