
Banjarnegara — Kabar membanggakan datang dari keluarga besar MTs Negeri 1 Banjarnegara. Salah satu pengadministrasi perkantoran, Fitriyanto, kembali menorehkan prestasi di bidang literasi dengan menerbitkan buku puisi solo ke-8 berjudul Sinaran. Pencapaian ini menjadi bukti nyata konsistensi dan dedikasinya dalam berkarya di tengah kesibukan sebagai tenaga kependidikan.
Fitriyanto dikenal sebagai sosok yang aktif menulis sejak lama. Di sela-sela tugas administrasi yang padat, ia terus menyalurkan ide, perasaan, dan refleksi kehidupannya melalui puisi. Buku Sinaran menjadi karya terbarunya yang memuat kumpulan puisi dengan tema kehidupan, spiritualitas, dan harapan.
Saat ditemui tim Warta Madtsansa pada Rabu (15/4), Fitriyanto mengungkapkan rasa syukur atas terbitnya buku tersebut. “Alhamdulillah, ini adalah bentuk perjalanan panjang saya dalam menulis. Sinaran saya hadirkan sebagai refleksi batin, tentang bagaimana kita tetap menemukan cahaya dalam berbagai situasi kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa proses kreatif dalam penulisan buku ini tidak selalu mudah. “Menulis itu bukan soal waktu luang, tapi soal meluangkan waktu. Di tengah kesibukan pekerjaan, saya berusaha tetap disiplin menulis, walaupun hanya beberapa baris setiap hari,” kata Fitriyanto.
Lebih lanjut, ia berharap karya tersebut dapat memberikan inspirasi bagi pembaca, khususnya lingkungan madrasah. “Saya ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa berkarya, termasuk tenaga kependidikan. Semoga buku ini bisa menjadi penyemangat bagi rekan-rekan dan siswa untuk tidak berhenti menulis,” tambahnya.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, turut memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Fitriyanto menjadi contoh nyata budaya literasi yang hidup di madrasah. “Kami sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh Mas Fitriyanto. Ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga membawa nama baik madrasah,” ungkapnya.
H. Yatiman menegaskan bahwa pihak madrasah terus mendorong seluruh warga untuk aktif dalam kegiatan literasi. “Kami berkomitmen membangun ekosistem literasi yang kuat. Apa yang dilakukan Mas Fitriyanto adalah bukti bahwa budaya membaca dan menulis di madrasah ini berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, pegiat literasi Madtsansa, Linara, menilai bahwa karya Sinaran memiliki nilai estetika dan kedalaman makna yang kuat. “Puisi-puisi dalam buku ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun dikemas dengan bahasa yang puitis dan reflektif. Ini menunjukkan kematangan proses kreatif penulis,” jelasnya.
Linara juga menambahkan bahwa keberhasilan ini bisa menjadi motivasi bagi komunitas literasi di madrasah. “Kami berharap ini menjadi pemantik semangat bagi siswa dan guru untuk terus berkarya. Literasi bukan hanya kegiatan, tetapi juga gerakan bersama,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh Sarno, pegiat literasi lainnya di Madtsansa. Ia melihat bahwa konsistensi Fitriyanto patut diapresiasi dan dicontoh. “Menulis sampai delapan buku itu bukan hal mudah. Dibutuhkan komitmen, ketekunan, dan kecintaan terhadap dunia literasi,” ujarnya.
Sarno juga menekankan pentingnya dukungan lingkungan dalam menumbuhkan budaya menulis. “Madrasah sudah menyediakan ruang dan dukungan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Apa yang dilakukan Pak Fitriyanto adalah bukti bahwa kesempatan itu ada,” tambahnya.
Terbitnya buku Sinaran semakin memperkuat citra MTs Negeri 1 Banjarnegara sebagai madrasah yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga aktif dalam pengembangan literasi. Prestasi ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menginspirasi lahirnya karya-karya baru dari warga madrasah.
Dengan semangat “Madtsansa Juara”, keberhasilan Fitriyanto menjadi bukti bahwa dedikasi dan kreativitas dapat berjalan beriringan, serta memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan dan literasi di Indonesia. (Lin)
