
Banjarnegara — Kelas Unggulan Sastra MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menorehkan prestasi melalui kegiatan Launching dan Bedah Buku Kelas Sastra Madtsansa yang digelar pada Selasa (10/2) di Aula RM Kedaung Prigi Banjarnegara. Kegiatan ini menghadirkan dosen sastra Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Dra. Eko Sri Israhayu, M.Hum., yang akrab disapa Bu Yayuk, sebagai pemateri sekaligus pembedah karya siswa. Acara berlangsung khidmat namun hangat, dipenuhi antusiasme para siswa, guru, serta tamu undangan yang hadir untuk mengapresiasi lahirnya karya-karya literasi muda Madtsansa.
Dalam kegiatan tersebut, Bu Yayuk secara khusus memberikan apresiasi terhadap keberanian dan konsistensi siswa dalam menulis dan menerbitkan buku antologi. Ia menilai capaian ini bukanlah hal sederhana bagi siswa tingkat madrasah tsanawiyah. Menurutnya, proses menulis membutuhkan kedisiplinan berpikir, kepekaan rasa, serta keberanian menuangkan gagasan.
“Saya sangat mengapresiasi karya anak-anak Madtsansa. Di usia mereka yang masih sangat muda, sudah mampu menulis puisi, cerpen, hingga fabel dengan struktur yang cukup matang. Ini menunjukkan bahwa budaya literasi di madrasah ini tumbuh dengan sangat baik,” ungkap Bu Yayuk saat sesi bedah buku.
Lebih lanjut, Bu Yayuk juga menyampaikan pesan motivasi kepada siswa kelas unggulan sastra agar tidak cepat berpuas diri. Ia menekankan bahwa menulis adalah proses panjang yang membutuhkan latihan berkelanjutan.
“Teruslah membaca dan menulis. Jangan takut salah, karena dari kesalahan itulah penulis besar lahir. Karya pertama bukan tujuan akhir, melainkan pintu pembuka perjalanan panjang di dunia sastra,” pesannya yang disambut tepuk tangan peserta.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas perkembangan kelas sastra Madtsansa yang dinilai mampu menjadi wajah literasi madrasah. Ia menuturkan bahwa kegiatan launching dan bedah buku ini merupakan bukti nyata komitmen madrasah dalam membangun karakter siswa melalui jalur literasi.
“Kami berharap kelas sastra ini tidak hanya melahirkan penulis muda, tetapi juga pribadi yang kritis, peka terhadap lingkungan, dan berakhlak mulia. Kehadiran Bu Yayuk menjadi energi positif bagi anak-anak untuk terus berkarya,” ujarnya.
Sementara itu, pembimbing kelas sastra, Rizki Arbangi Nopi, menjelaskan bahwa proses penyusunan buku dilakukan melalui pendampingan intensif mulai dari tahap pencarian ide, penulisan draf, hingga penyuntingan. Ia menilai apresiasi dari akademisi seperti Bu Yayuk sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri siswa.
“Anak-anak sangat membutuhkan pengakuan dari pihak luar agar mereka yakin bahwa karya mereka layak dibaca dan dikembangkan. Ini menjadi motivasi besar bagi mereka untuk terus produktif,” jelas Rizki.
Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan tersebut adalah saat Bu Yayuk memberikan apresiasi kepada Evandri, siswa kelas 7, melalui karyanya berjudul Negeri yang Patah. Menurut Bu Yayuk, tulisan Evandri memiliki kedalaman emosi dan pilihan diksi yang kuat untuk ukuran penulis seusianya.
“Karya ini menunjukkan kepekaan sosial yang tinggi. Saya melihat potensi besar jika terus diasah,” tuturnya.
Evandri sendiri mengaku tidak menyangka karyanya mendapat perhatian khusus. Ia menyampaikan rasa senang sekaligus termotivasi untuk terus menulis.
“Saya senang sekali bisa diapresiasi. Awalnya saya menulis hanya untuk tugas kelas, tapi sekarang jadi ingin membuat cerita yang lebih baik lagi,” katanya dengan wajah berbinar.
Kegiatan Launching dan Bedah Buku Kelas Sastra Madtsansa ini tidak hanya menjadi ajang perayaan karya, tetapi juga ruang refleksi dan pembelajaran bagi siswa untuk memahami proses kreatif dalam dunia sastra. Melalui apresiasi dan pesan yang disampaikan Bu Yayuk, diharapkan para siswa semakin percaya diri dalam menapaki perjalanan literasi mereka serta mampu melahirkan karya-karya yang lebih bermakna di masa mendatang. (Lin)
