
Banjarnegara — Konsistensi MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam menumbuhkan budaya literasi kembali diwujudkan melalui terbitnya buku antologi puisi, doa, dan senandika berjudul Jejak Langkah Ibu Solikah. Buku tersebut merupakan karya kolaboratif Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madtsansa sebagai persembahan istimewa untuk guru Al Qur’an Hadits, Hj. Siti Solikah, yang memasuki masa purna tugas.
Buku antologi ini secara simbolis diserahkan pada Sabtu (14/2) dalam rangkaian acara Farewell Party yang digelar penuh kehangatan dan haru. Momentum tersebut menjadi bukti bahwa literasi di MTs Negeri 1 Banjarnegara tidak sekadar program, melainkan telah menjadi budaya yang hidup dan tumbuh di tengah warga madrasah.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan bahwa penerbitan buku ini merupakan bagian dari komitmen madrasah dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
“Budaya literasi di Madtsansa tidak berhenti pada kegiatan membaca dan menulis di kelas. Kami mendorong seluruh GTK untuk mengekspresikan gagasan, rasa, dan apresiasi dalam bentuk karya nyata. Buku Jejak Langkah Ibu Solikah ini adalah wujud penghargaan sekaligus dokumentasi jejak pengabdian beliau,” ungkap H. Yatiman.
Menurutnya, persembahan dalam bentuk buku memiliki makna mendalam karena akan terus abadi dan dapat dikenang lintas generasi. Ia berharap semangat ini menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk terus berkarya.
Buku antologi tersebut disusun dan disunting oleh Linara, pegiat literasi Madtsansa yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Urusan Humas. Linara menjelaskan bahwa proses penyusunan buku dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan banyak guru yang menuliskan puisi, doa, maupun senandika berdasarkan kenangan dan kesan mereka terhadap sosok Hj. Siti Solikah.
“Kami ingin menghadirkan kenangan dalam bentuk yang indah dan bermakna. Setiap tulisan lahir dari ketulusan hati para GTK. Ada yang menulis puisi penuh metafora, ada yang merangkai doa, dan ada pula yang menuliskan senandika yang personal dan reflektif,” jelas Linara.
Ia menambahkan bahwa buku ini bukan hanya tentang perpisahan, tetapi tentang penghargaan atas dedikasi panjang seorang pendidik.
“Bu Solikah bukan hanya guru Al Qur’an Hadits, tetapi juga teladan dalam ketekunan dan kesederhanaan. Buku ini menjadi saksi bahwa jejak beliau nyata di hati kami,” imbuhnya.
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam buku tersebut adalah senandika dengan tipografi akrostik yang ditulis oleh Abdul Majid, Koordinator Bidang Keagamaan. Dalam tulisannya, ia merangkai huruf-huruf nama “Solikah” secara vertikal, membentuk untaian kalimat reflektif tentang keteladanan, keikhlasan, dan pengabdian.
Abdul Majid mengungkapkan bahwa ia sengaja memilih bentuk akrostik sebagai simbol bahwa setiap huruf dalam nama memiliki makna dan cerita.
“Nama Bu Solikah bukan sekadar identitas, tetapi representasi nilai. Saya ingin setiap hurufnya berbicara tentang jejak langkah beliau dalam membimbing generasi Madtsansa, khususnya dalam pembelajaran Al Qur’an dan Hadits,” tuturnya.
Ia juga menyebutkan bahwa gaya senandika dipilih agar lebih luwes dan personal, sehingga pembaca dapat merasakan kedekatan emosional dengan sosok yang didedikasikan.
Sementara itu, Hj. Siti Solikah tampak terharu saat menerima buku tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian serta apresiasi yang diberikan oleh keluarga besar Madtsansa.
“Saya tidak menyangka akan menerima persembahan seindah ini. Selama ini saya hanya berusaha menjalankan amanah sebagai guru Al Qur’an Hadits dengan sebaik-baiknya. Jika ada kebaikan, itu semata karena pertolongan Allah,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia berharap madrasah terus menjaga semangat kebersamaan dan komitmen dalam membangun generasi yang berakhlak dan berilmu.
“Literasi adalah bagian dari peradaban. Jika guru-gurunya gemar menulis dan berkarya, insyaallah peserta didik juga akan terinspirasi,” tambahnya.
Acara Farewell Party hari itu pun menjadi momen refleksi bersama. Buku Jejak Langkah Ibu Solikah bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan simbol penghormatan, cinta, dan doa. Konsistensi MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam membangun budaya literasi terbukti mampu melahirkan karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna. Melalui karya ini, Madtsansa kembali menegaskan bahwa literasi adalah napas yang menghidupkan tradisi intelektual dan spiritual di madrasah sebuah jejak langkah yang akan terus dikenang, sebagaimana jejak pengabdian Hj. Siti Solikah yang kini terbingkai dalam lembar-lembar abadi. (Lin)
