Jejak Pengabdian Ki Sarno–Madtsansa Abadikan Dedikasi Guru dalam Buku Antologi

Banjarnegara — Keluarga besar MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa) kembali menunjukkan komitmennya sebagai madrasah literat melalui penerbitan buku antologi berjudul Jejak Pengabdian Ki Sarno. Buku ini menjadi persembahan istimewa bagi Ki Sarno, guru Bahasa Indonesia yang telah memasuki masa purnatugas setelah puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan.

Penerbitan buku tersebut tidak sekadar menjadi simbol perpisahan, tetapi juga bentuk penghormatan mendalam atas dedikasi, keteladanan, dan kontribusi Ki Sarno dalam membangun budaya literasi di Madtsansa. Buku ini memuat kumpulan doa, puisi, senandika, pantun, serta ucapan dari guru dan tenaga kependidikan (GTK) yang merekam jejak pengabdian beliau secara emosional dan penuh makna.

Kepala madrasah, H. Yatiman, menyampaikan bahwa lahirnya buku antologi ini merupakan refleksi nyata semangat literasi yang terus tumbuh di lingkungan Madtsansa. Ia menegaskan bahwa madrasah tidak hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga ruang kreatif bagi seluruh warga madrasah untuk berkarya.

“Buku ini adalah wujud rasa hormat dan cinta kami kepada Ki Sarno. Beliau bukan hanya guru Bahasa Indonesia, tetapi juga sosok inspiratif yang menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui kata dan teladan. Madtsansa ingin memastikan bahwa jejak pengabdian beliau tidak hilang begitu saja, melainkan terdokumentasi dan bisa menginspirasi generasi berikutnya,” ujar Yatiman.

Menurutnya, budaya literasi di Madtsansa terus berkembang seiring dengan berbagai program yang mendorong siswa dan guru untuk aktif menulis dan berkarya. Hal ini sejalan dengan komitmen madrasah dalam mencetak generasi berakhlak dan berwawasan luas.

Ki Sarno sendiri mengaku terharu atas perhatian dan apresiasi yang diberikan oleh rekan-rekan sejawat melalui buku tersebut. Ia tidak menyangka perjalanan panjangnya sebagai pendidik diabadikan dalam karya yang penuh makna.

“Saya merasa sangat bersyukur dan terharu. Selama ini saya hanya berusaha menjalankan tugas sebaik mungkin. Ternyata apa yang saya lakukan dikenang dan ditulis dengan begitu indah oleh teman-teman. Ini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagi saya dan keluarga,” ungkap Ki Sarno.

Ia juga berharap agar budaya literasi yang telah tumbuh di Madtsansa terus dijaga dan dikembangkan, karena menurutnya, kemampuan menulis adalah salah satu cara terbaik untuk merawat peradaban.

Wakil Kepala Urusan Humas Madtsansa, Linara, menjelaskan bahwa buku Jejak Pengabdian Ki Sarno ditata dan didesain secara khusus oleh tim humas sebagai bentuk keseriusan dalam menghadirkan karya yang berkualitas.

“Proses penyusunan buku ini melibatkan banyak pihak. Kami mengumpulkan tulisan dari GTK, lalu menata dan mendesainnya agar menjadi buku yang layak dibaca dan dikenang. Ini bukan hanya buku kenangan, tetapi juga bukti bahwa Madtsansa adalah madrasah yang hidup dengan budaya literasi,” jelas Linara.

Ia menambahkan, karya-karya dalam buku tersebut menggambarkan kedekatan emosional antara Ki Sarno dengan seluruh warga madrasah. Banyak tulisan yang tidak hanya berisi ucapan terima kasih, tetapi juga kisah-kisah kecil yang menggambarkan kehangatan dan ketulusan beliau dalam mendidik.

Salah satu pegawai Madtsansa, Sunarso, turut memberikan kesan mendalam terhadap sosok Ki Sarno. Ia menilai bahwa Ki Sarno adalah pribadi yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati.

“Pak Sarno adalah teladan bagi kami. Beliau mengajarkan banyak hal, bukan hanya tentang bahasa, tetapi juga tentang kehidupan dan keikhlasan dalam bekerja. Kami merasa kehilangan, tetapi juga bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan beliau,” ujar Sunarso.

Isi buku tersebut pun sarat dengan ungkapan penuh makna. Salah satu kutipan menyebut bahwa “pensiun bukan titik, hanya ganti bab cerita,” yang menggambarkan bahwa purnatugas bukan akhir dari pengabdian, melainkan awal dari perjalanan baru yang tetap bermakna.

Dengan terbitnya buku Jejak Pengabdian Ki Sarno, Madtsansa kembali menegaskan jati dirinya sebagai madrasah literat yang tidak hanya menghasilkan prestasi akademik, tetapi juga karya-karya inspiratif. Buku ini diharapkan menjadi warisan berharga yang akan terus dikenang dan menjadi sumber inspirasi bagi seluruh warga madrasah, kini dan di masa yang akan datang. (Fy)