Praktikum Asam Basa, Siswa Kelas 9H MTs Negeri 1 Banjarnegara Belajar IPA Secara Kontekstual

Banjarnegara — MTs Negeri 1 Banjarnegara terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual bagi peserta didik. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas 9H yang dilaksanakan pada materi Reaksi Kimia dan Dinamikanya, khususnya tentang pengujian larutan asam dan basa. Kegiatan ini berlangsung dengan pendampingan guru IPA MTs Negeri 1 Banjarnegara serta kolaborasi bersama guru IPA Madtsansa, Sumiyati.

Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa agar tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu mengamati dan menganalisis fenomena kimia yang ada di lingkungan sekitar. Dalam kegiatan tersebut, siswa melakukan pengujian berbagai jenis larutan menggunakan indikator alami dan indikator buatan.

Indikator alami yang digunakan adalah ekstrak kunyit, sementara indikator buatan yang digunakan berupa kertas lakmus merah dan lakmus biru. Adapun larutan yang diuji berasal dari bahan-bahan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti detergen, sampo, garam dapur, cuka, jeruk nipis atau lemon, serta obat antasida. Melalui bahan-bahan tersebut, siswa diajak untuk mengenali sifat asam, basa, dan netral secara nyata.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MTs Negeri 1 Banjarnegara, Ikhsanudin, menyampaikan bahwa kegiatan praktikum seperti ini sangat penting untuk mendukung pembelajaran aktif. “Praktikum IPA memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung. Anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melakukan, mengamati, dan menarik kesimpulan sendiri. Ini sejalan dengan upaya madrasah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan keterampilan berpikir kritis siswa,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan guru dari madrasah lain menjadi nilai tambah tersendiri. “Kehadiran Ibu Sumiyati dari Madtsansa memberikan warna baru dalam pembelajaran. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkaya metode pembelajaran IPA di madrasah,” imbuhnya.

Guru IPA Madtsansa, Sumiyati, yang turut mendampingi kegiatan praktikum tersebut, menjelaskan bahwa penggunaan indikator alami seperti kunyit sangat efektif untuk mengenalkan konsep kimia secara sederhana. “Indikator alami mudah dibuat, murah, dan dekat dengan kehidupan siswa. Dari sini mereka bisa belajar bahwa ilmu pengetahuan itu ada di sekitar kita, tidak selalu harus menggunakan alat laboratorium yang rumit,” jelasnya.

Menurut Sumiyati, praktikum asam basa juga melatih siswa untuk bekerja sama, teliti, dan bertanggung jawab. “Siswa belajar mencatat hasil pengamatan, membandingkan perubahan warna, serta mendiskusikan hasilnya bersama teman sekelompok. Ini sangat baik untuk melatih keterampilan proses sains,” tambahnya.

Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Salah satu siswi kelas 9H, Pratiwi, mengaku senang mengikuti praktikum tersebut. “Saya jadi lebih paham tentang perbedaan larutan asam dan basa. Ternyata bahan-bahan yang sering kita pakai di rumah punya sifat kimia yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan oleh Neizar, siswi kelas 9H lainnya. Ia mengatakan bahwa praktikum membuat pelajaran IPA terasa lebih menarik. “Belajar dengan praktik langsung itu lebih seru dan tidak membosankan. Kami jadi tahu kenapa cuka dan jeruk nipis rasanya asam, dan kenapa detergen bersifat basa,” tuturnya.

Melalui kegiatan praktikum ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara berharap siswa dapat memahami konsep reaksi kimia dan sifat larutan asam basa secara lebih mendalam. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, sikap ilmiah, serta kecintaan siswa terhadap ilmu pengetahuan alam.

Dengan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan kontekstual, madrasah optimistis dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. (Fy)