Seru dan Edukatif, Siswa Kelas 9A MTs Negeri 1 Banjarnegara Praktik Uji Asam Basa dengan Indikator Alami

Banjarnegara — Suasana pembelajaran di MTs Negeri 1 Banjarnegara tampak berbeda pada Selasa (20/1). Siswa kelas 9A mengikuti kegiatan praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bertema Reaksi Kimia dan Dinamikanya yang dilaksanakan di ruang kelas dengan penuh antusias. Praktikum ini menjadi salah satu upaya madrasah dalam memperkuat pemahaman konsep sains melalui pembelajaran kontekstual dan berbasis praktik langsung.

Dalam kegiatan tersebut, siswa melakukan praktik pengujian larutan asam dan basa dengan menggunakan dua jenis indikator, yakni indikator alami berupa ekstrak kunyit serta indikator buatan berupa kertas lakmus merah dan lakmus biru. Menariknya, larutan yang diuji bukan bahan kimia laboratorium semata, melainkan bahan-bahan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti detergen, sampo, garam, cuka, jeruk nipis atau lemon, serta antasida.

Guru IPA kelas 9A, Dewi Fairuz Zulaikha, menjelaskan bahwa praktikum ini dirancang agar siswa dapat memahami konsep reaksi kimia secara nyata dan aplikatif.

“Melalui praktikum ini, siswa tidak hanya menghafal teori tentang asam dan basa, tetapi juga melihat langsung bagaimana sifat larutan dapat dibedakan melalui perubahan warna indikator. Penggunaan bahan-bahan di sekitar mereka diharapkan membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa indikator alami seperti kunyit dipilih agar siswa mengenal alternatif bahan ramah lingkungan dalam eksperimen sains.

“Kunyit mengandung zat kurkumin yang akan berubah warna ketika bereaksi dengan larutan basa. Ini menjadi pembelajaran menarik sekaligus menambah wawasan siswa tentang kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan dalam ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Wakil Kepala Madrasah Urusan Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati, mengapresiasi pelaksanaan praktikum tersebut. Menurutnya, kegiatan praktik seperti ini sangat penting untuk menunjang capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pemahaman konsep, keterampilan proses sains, serta penguatan karakter peserta didik.

“Praktikum IPA menjadi sarana penting untuk melatih keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan ketelitian siswa. Kami terus mendorong para guru untuk menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan bermakna, salah satunya melalui kegiatan eksperimen seperti ini,” tutur Hj. Yuniyati.

Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Mereka bekerja dalam kelompok kecil, mencatat hasil pengamatan, mendiskusikan perubahan warna indikator, serta menarik kesimpulan dari setiap larutan yang diuji. Salah satu siswa kelas 9A, Fadey, mengaku senang mengikuti praktikum tersebut karena membuat pelajaran IPA terasa lebih hidup.

“Biasanya kami belajar dari buku, tapi hari ini bisa langsung praktik. Jadi lebih paham mana yang asam dan mana yang basa. Ternyata detergen dan sampo itu bersifat basa, sedangkan cuka dan jeruk nipis bersifat asam,” ungkap Fadey dengan antusias.

Hal senada disampaikan oleh Tsaumi, siswi kelas 9A. Ia merasa penggunaan indikator alami menjadi pengalaman baru yang menarik.

“Baru tahu kalau kunyit bisa digunakan sebagai indikator. Saat dicampur dengan larutan basa warnanya berubah, itu seru sekali. Praktikum seperti ini bikin kami lebih semangat belajar IPA,” tuturnya.

Melalui kegiatan praktikum ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara berharap siswa tidak hanya memahami konsep reaksi kimia secara teoritis, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Pembelajaran IPA pun diharapkan menjadi lebih bermakna dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap dunia sains sejak dini. (Fy)