
Banjarnegara — MTs Negeri 1 Banjarnegara menggelar kegiatan diseminasi penguatan implementasi kurikulum berbasis cinta dan pembelajaran mendalam pada Sabtu (21/2). Kegiatan yang dilaksanakan di laboratorium komputer Madtsansa tersebut diikuti oleh seluruh guru dan tenaga pendidik sebagai bagian dari komitmen madrasah dalam meningkatkan mutu pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Diseminasi ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Kepala Madrasah H. Yatiman dan Wakil Kepala Urusan Kurikulum Hj. Yuniyati. Sebelumnya, keduanya telah mengikuti kegiatan serupa di Semarang selama tiga hari pada awal Februari, sehingga hasil dan materi yang diperoleh kemudian dibagikan kepada seluruh guru melalui forum ini. Acara dipandu oleh moderator Linara yang mengarahkan jalannya diskusi agar tetap interaktif dan aplikatif.
Dalam sambutannya, H. Yatiman menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta bukan sekadar istilah, melainkan sebuah pendekatan yang menekankan ketulusan, empati, dan penghargaan terhadap potensi setiap peserta didik. Menurutnya, pendidikan yang dilandasi cinta akan melahirkan suasana belajar yang nyaman dan bermakna.
“Pembelajaran yang berhasil bukan hanya yang mampu meningkatkan nilai akademik, tetapi yang juga menumbuhkan karakter, akhlak, serta rasa percaya diri siswa. Kurikulum berbasis cinta mendorong guru untuk memahami kebutuhan emosional dan sosial peserta didik,” ujar H. Yatiman.
Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran mendalam (deep learning) menuntut guru untuk tidak hanya menyampaikan materi secara permukaan, tetapi menggali pemahaman konseptual siswa secara komprehensif.
“Kita perlu memastikan bahwa siswa benar-benar memahami esensi materi, mampu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif,” imbuhnya.
Sementara itu, Hj. Yuniyati dalam paparannya menjelaskan bahwa selama mengikuti kegiatan di Semarang, para peserta mendapatkan berbagai strategi praktis dalam menerapkan pembelajaran mendalam di kelas. Ia menekankan pentingnya perencanaan yang matang melalui penyusunan modul ajar yang reflektif dan berorientasi pada kebutuhan siswa.
“Pembelajaran mendalam tidak bisa tercapai jika kita masih terpaku pada metode ceramah semata. Guru perlu menghadirkan aktivitas yang menantang, kolaboratif, dan kontekstual. Dengan begitu, siswa tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar memahami dan mampu menerapkan ilmunya,” jelas Hj. Yuniyati.
Ia juga mengajak seluruh guru untuk berani melakukan inovasi dan refleksi secara berkala. Menurutnya, budaya refleksi menjadi kunci dalam mengukur keberhasilan implementasi kurikulum berbasis cinta di Madtsansa.
Moderator Linara menyampaikan bahwa forum diseminasi ini menjadi ruang berbagi yang sangat berharga bagi para guru.
“Kegiatan ini bukan hanya transfer materi, tetapi juga ruang diskusi dan bertukar pengalaman. Harapannya, setelah ini akan muncul praktik-praktik baik di kelas yang bisa saling kita pelajari,” tuturnya.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan selama sesi diskusi. Kasum, guru Informatika, mengungkapkan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam sangat relevan dengan mata pelajaran yang diampunya.
“Dalam Informatika, siswa perlu lebih banyak praktik dan pemecahan masalah nyata. Konsep deep learning ini mendorong saya untuk merancang proyek yang lebih menantang dan bermakna,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh Tri Rochani, guru Prakarya. Ia menilai kurikulum berbasis cinta sangat selaras dengan pembelajaran berbasis karya.
“Di Prakarya, siswa belajar melalui proses. Ketika guru memberikan pendampingan dengan empati dan apresiasi, siswa menjadi lebih percaya diri dalam berkarya. Ini sejalan dengan semangat kurikulum berbasis cinta,” ujarnya. Kegiatan diseminasi ditutup dengan komitmen bersama seluruh guru untuk mengimplementasikan hasil pelatihan secara konsisten di kelas masing-masing. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan MTs Negeri 1 Banjarnegara semakin siap menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, kritis, dan kreatif sesuai tuntutan zaman. (Fy)
