
Banjarnegara — Pembelajaran Prakarya di kelas 9F MTs Negeri 1 Banjarnegara berlangsung aktif dan kontekstual melalui kegiatan praktikum rekayasa penjernihan air sederhana. Kegiatan ini dilaksanakan di kelas dengan melibatkan seluruh siswa kelas 9F yang dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja. Melalui praktikum ini, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menerapkannya secara langsung dalam bentuk rekayasa sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Praktikum penjernihan air sederhana ini bertujuan untuk melatih keterampilan berpikir kritis, kerja sama, serta kepedulian siswa terhadap permasalahan lingkungan, khususnya terkait ketersediaan air bersih. Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti botol plastik bekas, pasir, kerikil, arang, ijuk, dan kapas, siswa diajak memahami prinsip kerja filtrasi bertahap dalam menjernihkan air keruh.
Wakil Kepala Madrasah Urusan Kesiswaan, Ikhsanudin, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan pembelajaran berbasis praktik tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat penting untuk mengembangkan karakter dan keterampilan abad 21 pada diri siswa.
“Pembelajaran Prakarya melalui praktikum seperti ini sangat efektif karena siswa belajar secara langsung. Mereka dilatih bekerja sama, bertanggung jawab terhadap tugas kelompok, serta peka terhadap persoalan lingkungan. Ini sejalan dengan upaya madrasah dalam membentuk siswa yang aktif, kreatif, dan peduli,” ujar Ikhsanudin.
Guru Prakarya kelas 9F, Tri Rochani, menjelaskan bahwa materi rekayasa penjernihan air sederhana dipilih agar siswa dapat memahami konsep teknologi tepat guna. Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan vital, sehingga siswa perlu dikenalkan cara-cara sederhana untuk mengolah air secara mandiri.
“Melalui kegiatan ini, siswa belajar prinsip filtrasi fisik dengan menyusun lapisan penyaring dari bahan yang paling kasar hingga paling halus. Mereka juga belajar bahwa barang-barang sederhana di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk solusi masalah nyata,” jelas Tri Rochani.
Dalam pelaksanaannya, siswa kelas 9F terlihat antusias mengikuti setiap tahapan praktikum. Mulai dari persiapan alat dan bahan, penyusunan lapisan penyaring di dalam botol terbalik, hingga proses menuangkan air keruh dan mengamati hasil penyaringan. Setiap kelompok berdiskusi dan bekerja sama untuk memastikan susunan lapisan penyaring sesuai dengan petunjuk.
Salah satu siswi kelas 9F, Lokati, mengaku senang mengikuti pembelajaran Prakarya dengan metode praktikum. Menurutnya, kegiatan ini membuat pelajaran menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.
“Biasanya kami hanya membaca atau mendengarkan penjelasan, tapi kali ini kami bisa langsung mencoba. Saya jadi tahu fungsi pasir, arang, dan kapas dalam menjernihkan air. Belajarnya jadi lebih seru,” ungkap Lokati.
Hal senada disampaikan oleh Aqil, siswa kelas 9F, yang merasa kegiatan ini menambah wawasan dan keterampilan baru. Ia menyebutkan bahwa praktikum ini juga melatih kekompakan dalam kelompok.
“Kami harus bekerja sama supaya hasil penyaringannya bagus. Dari sini saya belajar bahwa kerja tim itu penting, dan ternyata menjernihkan air bisa dilakukan dengan cara sederhana,” ujar Aqil.
Melalui kegiatan pembelajaran Prakarya ini, diharapkan siswa kelas 9F tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Praktikum rekayasa penjernihan air sederhana menjadi salah satu bentuk pembelajaran bermakna yang mendukung pengembangan keterampilan, kreativitas, serta kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar. (Lin)
