
Banjarnegara — Kegiatan The Spiritual Journey MTs Negeri 1 Banjarnegara terus menghadirkan rangkaian aktivitas edukatif dan religius yang sarat makna. Pada Sabtu (17/1), Pos 2 kegiatan ini diisi dengan pelaksanaan Lomba Tayamum yang dipusatkan di Masjid Huda Jenggul. Lomba tersebut menjadi salah satu sarana pembelajaran praktik ibadah bagi para siswa sekaligus penguatan pemahaman fikih dalam kehidupan sehari-hari.
Lomba Tayamum diikuti oleh perwakilan peserta dari berbagai kelas dengan penuh antusias. Para peserta ditantang untuk mempraktikkan tata cara tayamum yang benar sesuai dengan tuntunan syariat Islam, mulai dari niat, penggunaan debu yang suci, hingga urutan gerakan yang tepat. Penilaian dilakukan secara ketat oleh dua juri berkompeten, yakni H. Bambang Naryanto dan Dewi Fairuz Zulaikha.
Wakil Kepala Madrasah Urusan Kesiswaan MTs Negeri 1 Banjarnegara, Ikhsanudin, dalam keterangannya menyampaikan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi lebih pada media pembelajaran kontekstual bagi peserta didik. Menurutnya, pemahaman terhadap tayamum sangat penting karena merupakan bagian dari rukhshah atau keringanan dalam ibadah yang sering dijumpai dalam kondisi tertentu.
“Kami ingin siswa tidak hanya tahu secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkan tayamum dengan benar. Melalui The Spiritual Journey, nilai-nilai ibadah kami kemas secara aplikatif dan menyenangkan, sehingga lebih membekas dalam diri anak-anak,” ujar Ikhsanudin.
Ia menambahkan bahwa Masjid Huda Jenggul dipilih sebagai lokasi Pos 2 karena suasananya yang kondusif untuk kegiatan spiritual dan pembelajaran ibadah. Selain itu, keterlibatan juri yang berpengalaman diharapkan dapat memberikan penilaian objektif sekaligus edukasi langsung kepada peserta.
Salah satu juri lomba, H. Bambang Naryanto, mengapresiasi semangat para peserta yang mengikuti lomba dengan serius dan penuh tanggung jawab. Ia menilai bahwa secara umum peserta sudah memahami dasar-dasar tayamum, meskipun masih diperlukan pembinaan lanjutan dalam hal ketelitian niat dan kesesuaian urutan gerakan.
“Tayamum sering dianggap sederhana, padahal ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan. Saya melihat anak-anak cukup baik dalam praktik, dan ini menunjukkan pembelajaran fikih di madrasah berjalan dengan efektif,” ungkapnya.
Senada dengan itu, juri lainnya, Dewi Fairuz Zulaikha, menekankan pentingnya pembiasaan praktik ibadah sejak dini. Menurutnya, lomba seperti ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri siswa sekaligus melatih mereka untuk memahami hikmah di balik setiap rukhsah dalam Islam.
“Anak-anak jadi tahu bahwa Islam itu memudahkan, tetapi tetap ada aturan yang harus dijaga. Kegiatan ini sangat positif untuk membentuk karakter religius siswa,” tuturnya.
Salah satu peserta lomba, Alif dari kelas 7B, mengaku senang bisa mengikuti Lomba Tayamum di Pos 2 The Spiritual Journey. Ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut menambah pemahamannya tentang tata cara tayamum yang benar, terutama dalam kondisi darurat.
“Tadi sempat grogi, tapi senang karena bisa belajar langsung. Saya jadi lebih paham urutan tayamum dan niatnya,” kata Alif.
Hal serupa disampaikan oleh Gani, peserta dari kelas 9C. Ia menilai lomba ini menjadi pengingat pentingnya memahami ibadah secara menyeluruh, tidak hanya wudu tetapi juga tayamum.
“Kegiatannya seru dan bermanfaat. Ini jadi bekal kami kalau suatu saat berada dalam kondisi tidak ada air,” ujar Gani.
Melalui Lomba Tayamum di Pos 2 ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara berharap nilai-nilai spiritual dan pemahaman ibadah siswa semakin kuat. Kegiatan The Spiritual Journey pun diharapkan mampu menjadi sarana pembinaan karakter religius yang berkelanjutan bagi seluruh peserta didik. (Fy)
