
Banjarnegara — MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi guru melalui kegiatan Komunitas Belajar Madtsansa yang dilaksanakan pada Sabtu (10/1) bertempat di Laboratorium Komputer MTs Negeri 1 Banjarnegara. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan, dan berlangsung mulai pukul 12.30 WIB hingga 15.00 WIB, setelah seluruh rangkaian pembelajaran siswa selesai.
Mengusung tema “Digitalisasi Pembelajaran Tanpa Teknologi”, komunitas belajar kali ini menghadirkan Widi Widayati, S.Pd., M.Pd. sebagai narasumber. Materi yang disampaikan merupakan hasil pengayaan dan refleksi praktik baik yang sebelumnya diperoleh narasumber saat mengikuti kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) MGMP Bahasa Inggris pada akhir Desember lalu. Melalui forum ini, ilmu dan pengalaman tersebut dibagikan kepada seluruh guru Madtsansa agar dapat diadaptasi lintas mata pelajaran.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati, dalam sambutannya menegaskan pentingnya komunitas belajar sebagai ruang tumbuh bersama bagi para pendidik. Menurutnya, digitalisasi pembelajaran tidak selalu harus dimaknai secara sempit sebagai penggunaan perangkat teknologi canggih.
“Digitalisasi pembelajaran sejatinya adalah perubahan cara berpikir dan pendekatan dalam mengajar. Guru perlu kreatif, reflektif, dan berorientasi pada murid. Melalui komunitas belajar ini, kami berharap guru semakin mampu merancang pembelajaran bermakna meskipun dengan sarana yang sederhana,” ujar Hj. Yuniyati.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan di luar jam mengajar siswa ini merupakan bentuk dedikasi guru Madtsansa dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Widi Widayati selaku narasumber menjelaskan bahwa digitalisasi pembelajaran tanpa teknologi menekankan pada penerapan prinsip-prinsip berpikir komputasional, pemetaan alur belajar, kolaborasi, dan pemanfaatan media sederhana yang ada di sekitar kelas.
“Digital bukan selalu tentang gawai atau aplikasi. Guru dapat menerapkan konsep digital melalui desain pembelajaran yang sistematis, interaktif, dan mendorong siswa berpikir kritis. Apa yang saya sampaikan hari ini merupakan hasil praktik baik dari PKB MGMP Bahasa Inggris yang saya ikuti, dan saya senang bisa membagikannya kepada rekan-rekan di Madtsansa,” ungkap Widi.
Selama sesi berlangsung, para peserta terlihat antusias mengikuti pemaparan materi, diskusi, serta simulasi penerapan konsep pembelajaran. Interaksi dua arah antara narasumber dan peserta menciptakan suasana belajar yang aktif dan reflektif.
Salah satu peserta, Rahma Ayu Arina Putri, guru BTQ MTs Negeri 1 Banjarnegara, mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan tersebut.
“Materinya sangat membuka wawasan. Selama ini kami sering merasa digitalisasi harus selalu menggunakan teknologi, padahal ternyata bisa dimulai dari perencanaan pembelajaran dan strategi mengajar yang tepat. Ini sangat relevan dengan kondisi kelas kami,” tuturnya.
Hal senada disampaikan oleh Ma’arif Gunawan, guru Bahasa Arab MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ia menilai kegiatan komunitas belajar ini memberikan inspirasi baru dalam mengelola pembelajaran bahasa.
“Konsep digitalisasi tanpa teknologi ini justru menantang kami untuk lebih kreatif. Banyak ide yang bisa langsung diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Arab agar lebih kontekstual dan menyenangkan bagi siswa,” katanya.
Kegiatan Komunitas Belajar Madtsansa ini diharapkan dapat menjadi budaya positif di lingkungan MTs Negeri 1 Banjarnegara, sebagai sarana berbagi praktik baik, refleksi, dan peningkatan profesionalisme guru. Dengan semangat kolaborasi dan pembelajaran berkelanjutan, Madtsansa terus berupaya melahirkan pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik di era perubahan. (Fy)
